Laman: blog ini akan bercerita mengenai materi bahasa indonesi karangan cerpen dan puisi moga bisa

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 18 Oktober 2012

Koyo Refleksi Kaya Manfaat Dengan Harga Murah

Koyo Refleksi adalah produk kesehatan yang bekerja menyerap racun dalam tubuh melalui titik-titik refleksi yang terdapat pada telapak kaki.

Manfaat :
1. Membuang toksi/ racun dalam tubuh
2. Mengurangi nyeri sendi, lutut, sakit pada tumit dan telapak kaki

3. Mengurangi sakit kepala, sakit ginjal, diabetes dan asan urat
4. Menguatkan system imunitas tubuh
5. Mengatasi masalah susah tidur

Silakan yang mau order hubungi bapak Risdiyanto pemilik blog ini.

PENTING!!!
Ini bukan MLM, ini adalah murni jualan produk. Jadi harga dijamin lebih murah dibanding dengan produk yang ada di bisnis jaringan atau MLM

Selasa, 16 Oktober 2012

Master of Ceremoni ~pidato pendidikan karakter

contoh pidato pendidikan berkarakter


Asalamualaikum Wr.Wb.
 Dewan juri yang saya hormati, serta teman-temanku yang saya cintai
 Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan hidayahnya, sehingga kita semua bisa berkumpul pagi ini dengan keadaan sehat wal’afiat
 Semoga Shalawat serta salam, semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Nabi Muhammad SAW. Nabi akhir zaman dan panutan umat manusia.
 Dewan Juri yang saya hormati,dan teman-temanku yang saya sayangi.
 Perkenankan pada kesempatan kali ini,saya akan menyampaikan betapa “pentingnya pendidikan karakter di lingkungan sekolah”. Persoalan budaya dan karakter bangsa yang muncul di masyarakat, seperti: kekerasan, kejahatan, perkelahian, korupsi, dan tindak kriminal lainnya kini menjadi topik pembahasan hangat di media massa, seminar dan berbagai kesempatan lainnya.
 Tahun ini, pemerintah mencanangkan pendidikan budaya dan karakter bangsa di lingkungan pendidikan. Tujuannya antara lain adalah :
 1.      Mengembangkan kebiasaan yang terpuji sesuai dengan budaya bangsa yang religius.
2.      Memiliki karakter yang berdasarkan nilai-nilai pancasila dan dapat mengembangkan nilai-nilai tersebut pada diri kita melalui pendidikan hati, otak dan fisik.
 3.      Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawaab sebagai generasi penerus bangsa.
 4.      Menjadi manusia yang mandiri, kreatif   dan berwawasan kebangsaan.
 5.      Mengembangkan lingkungan sekolah yang aman, jujur, penuh kretivitas, dan bersahabat.

 Dewan juri yang saya hormati dan teman-teman yang saya cintai
 Saya akan mengambil contoh tentang perilaku siswa di sekolah yang kurang baik.Misalnya bertengkar, memalak, tidak memberi salam saat bertemu guru, mencuri, makan dan minum sambil berjalan, membuang sampah sembarangan, mengeluarkan kata-kata yang kurang enak didengar, dan masih banyak lagi. Nah, dari beberapa contoh tersebut, sudah menunjukkan budaya dan karakter kita tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Siapa yang masih seperti itu? Pasti, tidakkan? Apakah kita mau, dikatakan sebagai bangsa yang katanya beradab dan berpendidikan tinggi, tapi dalam kenyataannya, moral kita justru memalukan dimata bangsa lain? tentu tidak bukan?!!! Nah, kita harus bisa menyaring budaya asing / luar yang tidak sesuai dengan budaya dan karakter kita meskipun banyak pengaruh dari berbagai sumber. Misalnya: media masa, internet dan lingkungan sekitar.Budaya bangsa Indonesia sebagai orang timur harus kita lestarikan agar dimata bangsa lain kita tetap dikenal sebagai bangsa yang beradap memiliki wawasan cara berpikir, cara bertindak dan cara menyelesaikan masalah sesuai dengan norma dan ciri keIndonesiaannya.
 Dewan Juri yang saya hormati dan teman-temanku yang saya sayangi. Demikian pidato yang dapat saya sampaikan.Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Apabila ada salah saya mohon maaf dan apabila ada benarnya itu karena Alloh SWT semata.

 Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Senin, 15 Oktober 2012

jenis pantun


PENGERTIAN PANTUN

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan dan dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan. Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), bersajak akhir dengan pola a-b-a-b (tidak boleh a-a-a-a, a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.

JENIS PANTUN DAN CONTOHNYA

1. Pantun Adat

Menanam kelapa di pulau Bukum Tinggi
sedepa sudah berbuah
Adat bermula dengan hukum
Hukum bersandar di Kitabullah

Ikan berenang didalam lubuk
Ikan belida dadanya panjang
Adat pinang pulang ke tampuk
Adat sirih pulang ke gagang

Lebat daun bunga tanjung
Berbau harum bunga cempaka
Adat dijaga pusaka dijunjung
Baru terpelihara adat pusaka

Bukan lebah sembarang lebah
Lebah bersarang dibuku buluh
Bukan sembah sembarang sembah
Sembah bersarang jari sepuluh

Pohon nangka berbuah lebat
Bilalah masak harum juga
Berumpun pusaka berupa adat
Daerah berluhak alam beraja

2. Pantun Agama

Banyak bulan perkara bulan
Tidak semulia bulan puasa
Banyak tuhan perkara tuhan
Tidak semulia Tuhan Yang Esa

Daun terap diatas dulang
Anak udang mati dituba
Dalam kitab ada terlarang
Yang haram jangan dicoba

Bunga kenanga diatas kubur
Pucuk sari pandan Jawa
Apa guna sombong dan takabur
Rusak hati badan binasa

Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat dipintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang

3. Pantun Budi

Bunga cina diatas batu
Daunnya lepas kedalam ruang
Adat budaya tidak berlaku
Sebabnya emas budi terbuang

Diantara padi dengan selasih
Yang mana satu tuan luruhkan
Diantara budi dengan kasih
Yang mana satu tuan turutkan

Apa guna berkain batik
Kalau tidak dengan sujinya
Apa guna beristeri cantik
Kalau tidak dengan budinya

Sarat perahu muat pinang
Singgah berlabuh di Kuala Daik
Jahat berlaku lagi dikenang
Inikan pula budi yang baik

Anak angsa mati lemas
Mati lemas di air masin
Hilang bahasa karena emas
Hilang budi karena miskin

Biarlah orang bertanam buluh
Mari kita bertanam padi
Biarlah orang bertanam musuh
Mari kita menanam budi

Ayam jantan si ayam jalak
Jaguh siantan nama diberi
Rezeki tidak saya tolak
Musuh tidak saya cari

Jikalau kita bertanam padi
Senanglah makan adik-beradik
Jikalau kita bertanam budi
Orang yang jahat menjadi baik

Kalau keladi sudah ditanam
Jangan lagi meminta balas
Kalau budi sudah ditanam
Jangan lagi meminta balas

4. Pantun Jenaka

Dimana kuang hendak bertelur
Diatas lata dirongga batu
Dimana tuan hendak tidur
Diatas dada dirongga susu

Elok berjalan kota tua
Kiri kanan berbatang sepat
Elok berbini orang tua
Perut kenyang ajaran dapat

Sakit kaki ditikam jeruju
Jeruju ada didalam paya
Sakit hati memandang susu
Susu ada dalam kebaya

Naik kebukit membeli lada
Lada sebiji dibelah tujuh
Apanya sakit berbini janda
Anak tiri boleh disuruh

Orang Sasak pergi ke Bali
Membawa pelita semuanya
Berbisik pekak dengan tuli
Tertawa si buta melihatnya

Jalan-jalan ke rawa-rawa
Jika capai duduk di pohon palm
Geli hati menahan tawa
Melihat katak memakai helm

Limau purut di tepi rawa,
buah dilanting belum masak
Sakit perut sebab tertawa,
melihat kucing duduk berbedak

5. Pantun Kepahlawanan

Adakah perisai bertali rambut
Rambut dipintal akan cemara
Adakah misai tahu takut
Kamipun muda lagi perkasa

Hang Jebat Hang Kesturi
Budak-budak raja Melaka
Jika hendak jangan dicuri
Mari kita bertentang mata

Kalau orang menjaring ungka
Rebung seiris akan pengukusnya
Kalau arang tercorong kemuka
Ujung keris akan penghapusnya

Redup bintang haripun subuh
Subuh tiba bintang tak nampak
Hidup pantang mencari musuh
Musuh tiba pantang ditolak

Esa elang kedua belalang
Takkan kayu berbatang jerami
Esa hilang dua terbilang
Takkan Melayu hilang dibumi
6. Pantun Kias

Ayam sabung jangan dipaut
Jika ditambat kalah laganya
Asam digunung ikan dilaut
Dalam belanga bertemu juga

Berburu kepadang datar
Dapatkan rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
Bagaikan bunga kembang tak jadi

Anak Madras menggetah punai
Punai terbang mengirap bulu
Berapa deras arus sungai
Ditolak pasang balik kehulu

Kayu tempinis dari kuala
Dibawa orang pergi Melaka
Berapa manis bernama nira
Simpan lama menjadi cuka

Disangka nenas ditengah padang
Rupanya urat jawi-jawi
Disangka panas hingga petang
Kiranya hujan tengah hari

7. Pantun Nasihat

Kayu cendana diatas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang

Kemuning ditengah balai
Bertumbuh terus semakin tinggi
Berunding dengan orang tak pandai
Bagaikan alu pencungkil duri

Parang ditetak kebatang sena
Belah buluh taruhlah temu
Barang dikerja takkan sempurna
Bila tak penuh menaruh ilmu

Padang temu padang baiduri
Tempat raja membangun kota
Bijak bertemu dengan jauhari
Bagaikan cincin dengan permata

Ngun Syah Betara Sakti
Panahnya bernama Nila Gandi
Bilanya emas banyak dipeti
Sembarang kerja boleh menjadi

Jalan-jalan ke kota Blitar
jangan lupa beli sukun
Jika kamu ingin pintar
belajarlah dengam tekun
8. Pantun Percintaan

Coba-coba menanam mumbang
Moga-moga tumbuh kelapa
Coba-coba bertanam sayang
Moga-moga menjadi cinta

Limau purut lebat dipangkal
Sayang selasih condong uratnya
Angin ribut dapat ditangkal
Hati yang kasih apa obatnya

Ikan belanak hilir berenang
Burung dara membuat sarang
Makan tak enak tidur tak tenang
Hanya teringat dinda seorang

Anak kera diatas bukit
Dipanah oleh Indera Sakti
Dipandang muka senyum sedikit
Karena sama menaruh hati

Ikan sepat dimasak berlada
Kutunggu di gulai anak seberang
Jika tak dapat di masa muda
Kutunggu sampai beranak seorang

Kalau tuan pergi ke Tanjung
Kirim saya sehelai baju
Kalau tuan menjadi burung
Sahaya menjadi ranting kayu.

Kalau tuan pergi ke Tanjung
Belikan sahaya pisau lipat
Kalau tuan menjadi burung
Sahaya menjadi benang pengikat

Kalau tuan mencari buah
Sahaya pun mencari pandan
Jikalau tuan menjadi nyawa
Sahaya pun menjadi badan.

9. Pantun Peribahasa

Berakit-rakit kehulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Kehulu memotong pagar
Jangan terpotong batang durian
Cari guru tempat belajar
Jangan jadi sesal kemudian

Kerat kerat kayu diladang
Hendak dibuat hulu cangkul
Berapa berat mata memandang
Barat lagi bahu memikul

Harapkan untung menggamit
Kain dibadan didedahkan
Harapkan guruh dilangit
Air tempayan dicurahkan

Pohon pepaya didalam semak
Pohon manggis sebasar lengan
Kawan tertawa memang banyak
Kawan menangis diharap jangan

10. Pantun Perpisahan

Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang ditapak tangan
Biar jauh dinegeri satu
Hilang dimata dihati jangan

Bagaimana tidak dikenang
Pucuknya pauh selasih Jambi
Bagaimana tidak terkenang
Dagang yang jauh kekasih hati

Duhai selasih janganlah tinggi
Kalaupun tinggi berdaun jangan
Duhai kekasih janganlah pergi
Kalaupun pergi bertahun jangan

Batang selasih mainan budak
Berdaun sehelai dimakan kuda
Bercerai kasih bertalak tidak
Seribu tahun kembali juga

Bunga Cina bunga karangan
Tanamlah rapat tepi perigi
Adik dimana abang gerangan
Bilalah dapat bertemu lagi

Kalau ada sumur di ladang
Bolehlah kita menumpang mandi
Kalau ada umurku panjang
Bolehlah kita bertemu lagi

11. Pantun Teka-teki

Kalau tuan bawa keladi
Bawakan juga si pucuk rebung
Kalau tuan bijak bestari
Binatang apa tanduk dihidung ?

Beras ladang sulung tahun
Malam malam memasak nasi
Dalam batang ada daun
Dalam daun ada isi

Terendak bentan lalu dibeli
Untuk pakaian saya turun kesawah
Kalaulah tuan bijak bestari
Apa binatang kepala dibawah ?

Kalau tuan muda teruna
Pakai seluar dengan gayanya
Kalau tuan bijak laksana
Biji diluar apa buahnya

Tugal padi jangan bertangguh
Kunyit kebun siapa galinya
Kalau tuan cerdik sungguh
Langit tergantung mana talinya ?

Kamis, 11 Oktober 2012

Kata Penghubung

A. Pengertian Kata Penghubung
Kata penghubung disebut juga konjungsi atau kata sambung, yang berarti kata tugas yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa (Hasan Alwi, dkk., 2003: 296). Dalam pengertian lainnya, konjungsi adalah kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan yang lain dalam konstruksi hipotaktis, dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam konstruksi (Harimurti, 2007: 102).

B. Jenis-jenis Kata Penghubung
Dilihat dari fungsinya dapat dibedakan dua macam kata penghubung sebagai berikut:
(1) Kata penghubung yang menghubungkan kata, klausa, atau kalimat yang kedudukannya setara. Kata penghubung ini dibedakan lagi menjadi kata penghubung yang:
(a) menggabungkan biasa, yaitu dan, dengan, serta.
(b) menggabungkan memilih, yaitu atau.
(c) menggabungkan mempertentangkan, yaitu tetapi, namun, sedangkan, sebaliknya.
(d) menggabungkan membetulkan, yaitu melainkan, hanya.
(e) menggabungkan menegaskan, yaitu bahwa, malah, lagipuula, apalagi, jangankan.
(f) menggabungkan membatasi, yaitu kecuali, hanya.
(g) menggabungkan mengurutkan, yaitu lalu, kemudian, selanjutnya.
(h) menggabungkan menyamakan, yaitu yaitu, yakni, adalah, bahwa, ialah.
(i) menggabungkan menyimpulkan, yaitu jadi, karena itu, oleh sebab itu.
(2) Kata penghubung yang menghubungkan klausa dengan klausa yang kedudukannya bertingkat. Kata penghubung ini dibedakan lagi menjadi kata penghubung yang menggabungkan:
(a) menyatakan sebab, yaitu sebab, karena.
(b) menyatakan syarat, yaitu kalau, jikalau, jika, bila, apabila, asal.
(c) menyatakan tujuan, yaitu agar, supaya.
(d) menyatakan waktu, yaitu ketika, sewaktu, sebelum, sesudah, tatkala.
(e) menyatakan akibat, yaitu sampai, hingga, sehingga.
(f) menyatakan sasaran, yaitu untuk, guna.
(g) menyatakan perbandingan, yaitu seperti, laksana, sebagai.
(h) menyatakan tempat, yaitu tempat.
Jika dilihat dari kedudukannya konjungsi dibagi dua, yaitu konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif.

1. Konjungsi Koordinatif
Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat atau lebih yang kedudukannya sederajat atau setara (Abdul Chaer, 2008: 98). Contoh:
dan penanda hubungan penambahan
serta penanda hubungan pendampingan
atau penanda hubungan pemilihan
tetapi penanda hubungan perlawanan
melainkan penanda hubungan perlawanan
padahal penanda hubungan pertentangan
sedangkan penanda hubungan pertentangan
Konjungsi koordinatif agak berbeda dengan konjungsi lain, karena selain menghubungkan klausa juga menghubungkan kata. Seperti contoh berikut:
(a) Dia menangis dan istrinya pun tersedu-sedu.
(b) Aku yang datang ke rumahmu atau kamu yang datang ke rumahku?
(c) Dia terus saja berbicara, tetapi istrinya hanya terdiam saja.
(d) Andi pura-pura tidak tahu, padahal tahu banyak.
(e) Ibu sedang mencuci baju, sedangkan Ayah membaca Koran.

2. Konjungsi Subordinatif
Konjungsi subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat (kalusa) yang kedudukannya tidak sederajat (Abdul Chaer, 2008: 100). Konjungsi subordinatif dibagi menjadi tiga belas kelompok sebagai berikut:
1. Konjungsi suordinatif waktu: sejak, semenjak, sedari, sewaktu, tatkala, ketika, sementara, begitu, seraya, selagi, selama, serta, sambil, demi, setelah, sesudah, sebelum sehabis, selesai, seusai, hingga, sampai.
2. Konjungsi subordinatif syarat: jika, kalau, jikalau, asal(kan), bila, manakala.
3. Konjungsi subordinatif pengandaian: andaikan, seandainya, umpamanya, sekiranya.
4. Konjungsi subordinatif tujuan: agar, supaya, biar.
5. Konjungsi subordinatif konsesif: biar(pun), walau(pun), sekalipun, sungguhpun, kendati(pun).
6. Konjungsi subordinatif pembandingan: seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, laksana, ibarat, daripada, alih-alih.
7. Konjungsi subordinatif sebab: sebab, karena, oleh karena, oleh sebab.
8. Konjungsi subordinatif hasil: sehingga, sampai(sampai), maka(nya).
9. Konjungsi subordinatif alat: dengan, tanpa.
10. Konjungsi subordinatif cara: dengan, tanpa.
11. Konjungsi subordinatif komplementasi: bahwa
12. Konjungsi suboerdinatif atributif: yang
13. Konjungsi subordinatif perbandingan: sama …. dengan, lebih …. dari(pada)

Kata Penghubung

Kata penghubung ialah kata yang menghubungkan kata dengan kata dalam sebuah kalimat atau menghubungkan kalimat dengan kalimat dalam sebuah paragraf.

Kata Penghubung Intrakalimat
Kata penghubung intrakalimat yaitu kata yang menghubungkan kata dengan kata dalam sebuah kalimat.
Contoh:

dan
atau
tetapi
sesudah
jika
agar
supaya
dengan
bahwa
karena
ketika
maka
sedangkan
hingga
meski
lalu
sambil
serta
apabila
lagi pula
andaikata
sebab
sebelum
selama
sehingga
seandainya
sekiranya
melainkan
semenjak
andaikan
bagaikan
asalkan
jangankan
walaupun
meskipun
kendatipun
lagi
hanya
sekalipun
sungguhpun
melainkan
sampai-sampai
tatkala
kecuali
seraya
sambil



Contoh kalimat:
1. Semua usaha sudah ia lakukan, tetapi hasil yang ia dapat belum memuaskan.
2. Ani bukan seorang pecandu masakan Padang, melainkan pecandu masakan Palembang.
3. Ia sadar bahwa manusia hanya bisa berusaha.
4. Ketika semua telah terjadi, barulah penyesalan itu datang.
5. Kamu terlalu gemuk sampai-sampai motorku seperti mau patah.


Kata penghubung korelatif
Yaitu kata penghubung yang menghubungkan dua kata, frase, atau klausa, yang mengandung kedudukan sama.
baik… maupun….
…tidak…tetapi….
…bukan…melainkan….
makin…makin….
kian…kian….
sedemikian rupa … sehingga….
tidak hanya… tetapi juga….
Contoh kalimat:
1. Baik yang ia katakan maupun yang ia lakukan telah dimaafkan oleh penguasa.
2. Tanah itu tidak berfungsi bagi orang Dayak, tetapi bagi orang Madura bila dimanfaatkan untuk membuat batu bata.
3. Pak Amin bukan seorang petani, melainkan pemilik lahan.
4. Sedemikian rupa ia merancang kegiatan itu, sehingga sangat sulit ditemukan kekurangannya.

Kata Penghubung Antarkalimat
Kata penghubung antarkalimat adalah kata yang menjadi penghubung antara kalimat yang satu dengan kalimat lainnya dalam satu paragraf. Dengan adanya kata penghubung ini, kalimat menjadi lebih padu.
Contoh:

akan tetapi
namun
oleh karena itu
jadi
dengan demikian
meskipun begitu
lagi pula



Kata penghubung antarkalimat ini penulisannya didahului tanda koma.

Contoh kalimat:
1. Tidak ada pendekatan paling pas untuk mengarahkan remaja. Akan tetapi, pendekatan hati yang dilakukan orang tua bisa mencapai hasil paling baik.
2. Ia telah bekerja keras. Siang malam ia mencari uang untuk sekolah anaknya. Oleh karena itu, tidak ada anaknya yang tidak berhasil.
3. Orang itu sangat sensitif. Ini tidak baik. Segala sesuatu yang berlebihan cenderung negatif. Lagi pula, sifat sensitif tidak tepat untuknya karena ia seorang lelaki.
4. Kamu tidak pantas berbicara seperti itu. Kamu terlalu memperturutkan emosi. Meskipun begitu, kamu masih bisa meminta maaf kalau berjumpa lagi dengannya.
5. Ia sudah pergi jauh. Tak ada niatnya untuk kembali ke kampung halaman. Namun, semua yakin ia tidak akan bisa melupakan kedua orang tuanya.

Latihan
A. Lengkapi kalimat-kalimat di bawah ini dengan kata penghubung yang tepat.
1. Bekerjalah … sepenuh hati … pekerjaan berat pun terasa ringan.
2. Berbakti … kedua orang tua hukumnya wajib.
3. Orang kafir tidak akan masuk surga … unta bisa masuk lubang jarum.
4. Ia … sedang menghancurkan orang lain, … sedang menghancurkan dirinya sendiri.
5. Aku sebenarnya … senang dengan orang itu, … aku tak mau menampakkkanya.
6. Hobi telah mengubah hidupnya. Hobi telah menjadi mata pencaharian baginya. … ia tidak meninggalkan pekerjaan sebelumnya yang telah ia tekuni bertahun-tahun.
7. … hari … tampak niat buruknya kepada organisasi ini.
8. … para pemuda yang melakukan penyimpangan … orang dewasa yang seharusnya memberi contoh.
9. … permintaannya ditolak, ia akan mengundurkan diri dari perusahaan tempat ia bekerja sekarang.
10. Ia pantang mundur walau selangkah … berbagai ujian telah menerpanya silih berganti.

B. Objektif
1. Abiq terus mencoret kalender. Ia seperti tak jenuh menandai tiap angka di kalender itu. Entah apa yang sedang ia hitung. Seakan baginya tiap matahari tenggelam memiliki sesuatu makna yang sangat penting. …. kalender dicoretnya, ia biasanya memandangi lama-lama kalender itu. Paling sebentar setengah jam ia berdiri di depan kalender tiap harinya. … sehari saja ia tak berdiri di depan kalender, ia akan mengganti waktu itu dengan berdiri lebih lama … biasanya.
Kata penghubung yang tepat untuk mengisi titik-titik dalam paragraf di atas adalah ….
A. jika, kalau, dan
B. setelah, sebelum, walaupun
C. setelah, jika, daripada
D. andaikata, lalu, sambil
E. sampai-sampai, melainkan, atau

2. Dunia tulis-menulis belum banyak ditekuni orang. Indonesia masih langka … para penulis hebat. Menulis bukanlah bakat, … ada orang yang memang berbakat di bidang ini. Menulis lebih merupakan minat dan kemauan untuk belajar … berlatih. … seseorang mau, ia tentu bisa menjadi seorang penulis.
Kata penghubung yang tepat untuk mengisi titik-titik dalam paragraf di atas adalah ….
A. meskipun begitu, bahkan, tetapi, jika
B. semenjak, asalkan, sedemikian rupa, sehingga
C. tidak, tetapi, andaikata, sungguhpun
D. dengan, walaupun, jika, dan
E. tatkala, meskipun, bagaikan, asalkan

Resensi Novel

Resensi Novel

Resensi Novel
Resensi buku adalah kupasan atau pembahasan tentang buku yang biasanya disiarkan
melalui media massa, seperti surat kabar dan majalah. Tujuan resensi adalah memberi informasi kepada masyarakat akan kehadiran suatu buku. Pembuat resensi disebut resensator. Sebelum membuat resensi, resensator harus membaca buku itu terlebih dahulu. Sebaiknya, resensator memiliki pengetahuan yang memadai, terutama yang berhubungan dengan isi buku yang akan diresensi.

Unsur-unsur resensi
1. Judul resensi
2. Identitas buku
3. Kepengarangan
4. Sinopsis
5. Keunggulan dan kelemahan buku
6. Gaya bahasa
7. Simpulan

Judul resensi bukan judul buku. Judul resensi adalah judul karangan dari penulis resensi berdasarkan sesuatu yang menurutnya menarik dan bermakna sesuai isi resensinya.

Identitas buku meliputi:
- Judul buku
- Pengarang
- Penerbit
- Tahun terbit
- Jumlah halaman
- Harga

Kepengarangan yaitu isi resensi berkenaan dengan diri pengarang buku, antara lain riwayatnya dalam dunia mengarang/tulis-menulis, karya-karyanya, keterkaitan karya yang diresensi dengan karya lainnya.

Sinopsis adalah kilasan isi buku.

Keunggulan dan kelemahan buku berkenaan dengan apa kelebihan dan kekurangan buku yang bersangkutan. Kelebihan dan kekurangan ini seperti menarik/tidaknya cerita, kedalaman makna, pilihan kata, keterkaitan dengan fakta kehidupan nyata, dll. Termasuk dalam kelebihan dan kekurangan ini adalah kondisi fisik buku, seperti gambar kulit depan menarik/tidak, kertasnya berkualitas tinggi/rendah, dll.

Gaya bahasa adalah cara bercerita penulis, seperti pilihan kata, bahasa mudah dimengerti, banyak memakai bahasa sehari-hari/populer, dsb. Gaya bahasa ini kadang dimasukkan ke dalam kelebihan dan kekurangan karya.

Simpulan berisi pernyataan penulis resensi tentang bagus tidaknya buku dan pihak-pihak yang tepat sebagai pembaca buku tersebut. Contoh kalimat simpulan resensi : Buku ini sangat bagus dan sangat bermanfaat bagi mahasiswa yang sedang menekuni bidang bahasa.

Contoh resensi

Bocah-Bocah Penantang Badai





Judul buku : Laskar Pelangi
Pengarang : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang, Jakarta
Tahun terbit : 2007
Tebal : 563 halaman
Harga : Rp60.000,00


Dalam jagad kepengarangan nama Andrea Hirata tidak dikenal. Ia pun bukan seorang yang membiarkan dirinya menjadi seorang penulis. Ia lebih menekuni suatu keterampilan guna mewujudkannya dalam suatu jenis pekerjaan tertentu. Jelas belum ada maksudnya untuk menjadi seorang yang mentransfer ilmu lewat goresan pena. Namun, gebrakan pertamanya di dunia penulisan langsung menggetarkan, pun pada para penulis yang telah punya nama besar. Buku pertama Andrea langsung meledak. Buku ini dicetak berkali-kali dalam dalam hitungan bulan. Suatu prestasi bersejarah yang cukup sulit dicari tandingannya.
Laskar pelangi bercerita tentang para bocah yang saling mempunyai perbedaan. Satu hal yang sama pada mereka yaitu mereka sama-sama punya Buk Muslimah, seorang guru yang punya gudang cinta yang padat sesak. Cinta Bu Muslimah menjadi semangat yang bergelora bagi mereka dalam menjalani hari-hari belajar. Waktu berjalan terasa sangat cepat saat bersama Bu Muslimah. Semua kesulitan terasa mudah saat mereka berkumpul bersama. Para bocah itu melalui hari-hari yang penuh kenangan. Yang manis terasa sangat manis, yang pahit terasa manis. Episode sekolah dasar ini telah menumbuhkan sebuah pohon cita-cita yang besar berurat berakar dalam jiwa mereka. Kelak mereka akan menantang badai seganas apa pun demi mencapai cita-cita tersebut.
Semua pembaca dalam kelas umur apa pun pasti termotivasi setelah membaca Laskar Pelangi. Semua hal sederhana dalam Laskar Pelangi, kecuali impian. Anak-anak sederhana dalam segala keadaan mereka, ternyata punya impian yang sangat luar biasa. Dan terbukti, orang menjadi seperti apa yang ia impikan.
Bahasa enak dibaca, renyah, dan lucu. Artinya pembaca sering tergelitik untuk tersenyum atau tertawa ketika membaca buku ini. Yang mengherankan adalah kok penulis begitu bersemangat memakai bahasa Latin untuk nama-nama tertentu. Adakah niat untuk memadukan keterbelakangan latar cerita Laskar Pelangi dengan kesan keilmiahan dari istilah-istilah bahasa Latin itu? Ya, supaya jangan terlihat terlalu di pedalaman.
Hal yang paling patut diberi masukan adalah kertas buku ini yang kertas buram. Padahal, harganya cukup lumayan. Lagipula, pada beberapa cetakan ada halaman-halaman yang kosong. Cetakan terkesan tidak rapi, tidak profesional, dan buru-buru.
Semua orang layak membaca buku ini. Buku ini memberi pencerahan, memberi semangat baru, dan memberi hiburan. Buku ini harus menjadi koleksi para pecinta buku berkualitas.
Penulis: Abu Syifa
***

Latihan

1. Bukan hanya hiburan yang didapat, iman pun bisa bertambah. Ayat-Ayat Cinta benar-benar membuat genre baru dalam dunia sastra Indonesia. Kalau boleh diberi nama, genre ini akan bernama Sastra Islami. Kita larut dalam jalinan kisahnya, sambil mengevalusi atas diri kita sendiri. Ketekunan Fachri dalam belajar dan beribadah bisa membuat malu orang-orang yang masih larut dalam kelalaian mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. ….
Kalimat yang menyatakan keunggulan yang tepat untuk melengkapi penggalan resensi di atas adalah ….
A. Novel Ayat-Ayat cinta memberi arahan kepada pembaca dalam berbagai cabang ilmu agama.
B. Sehabis membaca Ayat-Ayat Cinta, ada timbul semangat untuk menjadi lebih dekat kepada Sang Pencipta.
C. Tokoh cerita yang didominasi orang Timur Tengah membuat cerita ini menjadi asing bagi banyak pembaca.
D. Pembaca harus memiliki pengetahuan keagamaan yang memadai agar bisa memahami novel ini.
E. Tokoh cerita yang digambarkan alim dan luar biasa membuat pembaca berkecil hati dan merasa awam.

2. Tak ada perbuatan asusila dalam novel Di Bawah Lindungan Kakbah karya Buya Hamka. Yang ada adalah contoh-contoh perilaku akhlak mulia yang bisa jadi contoh bagi pembacanya. Gaya bahasanya pun masih memikat bagi sebagian orang. Harus pula diakui gaya bahasanya memang telah ketinggalan zaman bagi sebagian orang terutama anak-anak zaman sekarang.
Unsur resensi yang terdapat dalam penggalan resensi di atas adalah ….
A. keunggulan
B. kelemahan
C. keunggulan dan kelemahan
D. kepengarangan
E. simpulan

Makna Leksikal dan Makna Gramatikal dan surat

Makna Leksikal dan Makna Gramatikal

Makna Leksikal
Makna leksikal adalah makna yang bersifat tetap. Oleh karena itu, makna
ini sering disebut dengan makna yang sesuai dengan kamus.
Contoh:
Makan kambing sapi
Minum buku pensil

Makna Gramatikal
Makna gramatikal adalah makna yang berubah-ubah sesuai dengan konteks
pemakainya. Kata ini sudah mengalami proses gramatikalisasi, baik pengimbuhan,
pengulangan, ataupun pemajemukan
Contoh:
Berlari = melakukan aktivitas
Bersedih = dalam keadaan
Bertiga = kumpulan
Berpegangan = saling



Surat

Surat

I. Surat Lamaran Kerja

Lowongan
Perusahan internasional PT Ahimbiqim membutuhkan seorang Manajer Pemasaran dengan persyaratan sebagai berikut:
1. Pendidikan minimal S 2 bidang ekonomi/manajemen.
2. Berpengalaman minimal 2 tahun.
3. Bersedia di tempatkan di luar negeri.
Kirimkan lamaran ke PO Box 90987 Jakarta paling lambat seminggu setelah iklan ini dimuat.
Sumber : Riau Pos, 22 Mei 2012


Hal : Lamaran Pekerjaan Duri, 23 Mei 2012

Yth.
Pimpinan PT Ahimbiqim
di Jakarta

Dengan hormat,
Sehubungan dengan iklan di Riau Pos, 22 Mei 2012, yang menyatakan bahwa perusahaan yang Bapak pimpin membutuhkan seorang manajer pemasaran, dengan ini saya,
nama : Sabiq Syuhada, M.M.
tempat, tanggal lahir : Duri, 16 Juni 1983
pendidikan terakhir : S 2 Manajemen UI
mengajukan lamaran untuk dapat mengisi lowongan tersebut.
Bersama ini saya lampirkan :
1. fotokopi ijazah terakhir
2. surat keterangan pengalaman kerja
3. pasfoto 4x6 empat lembar.
Demikianlah lamaran ini saya ajukan dengan harapan Bapak akan mengabulkannya. Atas perhatian Bapak, saya mengucapkan terima kasih.


Hormat saya,



Sabiq Syuhada


II. Surat Undangan Kegiatan

OSIS SMA Cinta Al-Aqsa akan mengadakan kegiatan perkemahan yang diberi nama Perkemahan Sahabat Palestina. Karena itu, akan diadakan rapat seluruh anggota OSIS untuk membahas rancangan kegiatan tersebut.
Surat undangan rapat oleh OSIS SMA Cinta Al-Aqsa adalah seperti di bawah ini.



Yayasan Pendidikan Cinta Al-Aqsa
Sekolah Menengah Atas Cinta Al-Aqsa
OSIS SMA Al-Aqsa
==========================================================================

Nomor : 10/OSIS/PSP/V/2012 1 Mei 2012
Lampiran : -
Hal : Undangan Rapat


Yth.
Pengurus OSIS SMA Cinta Al-Aqsa
di Tempat


Dengan hormat,
Sehubungan dengan akan dilaksanakannya kegiatan Perkemahan Sahabat Palestina maka kami mengundang seluruh pengurus OSIS SMA Cinta Al-Aqsa pada,
hari, tanggal : Jumat—Minggu, 28—30 Mei 2012
tempat : Ruang Pertemuan OSIS SMA Cinta Al-Aqsa
waktu : pukul 09.00 s.d. 11.00 WIB
untuk membicarakan rancangan agenda kegiatan dan pembagian tugas pelaksana kegiatan.
Demikianlah undangan ini kami sampaikan. Atas kehadiran Saudara, kami mengucapkan terima kasih.


Hormat kami,
Pengurus OSIS SMA Cinta Al-Aqsa




Hamidan Azizah
Ketua Sekretaris






Latihan

A. Esai
1. Lowongan
PT Alangbabega membutuhkan seorang Manajer Personalia dengan persyaratan sebagai berikut:
a. Berusia 30 s.d. 40 tahun
b. Pendidikan minimal S 1
c. Pengalaman kerja minimal empat tahun.
Kirimkan lamaran ke Jalan Abdurrahman nomor 11, Jambi, paling lambat satu minggu setelah iklan ini dimuat.
Sumber: Harian Nagari Batuah, 22 April 2012


2. Pengurus Masjid Darul Hikmah berencana mengadakan kegiatan Kajian Remaja Islam dengan pembicara oleh ustad ternama. Untuk itu pengurus akan mengundang seluruh anggota pengurus Masjid Darul Hikmah untuk membicarakan kegiatan tersebut. Buatlah surat undangan rapat tif
pengurus tersebut.


B. Objektif
1. Penulisan tanggal surat lamaran kerja yang tepat adalah ….
A. 20 Febr. 2012
B. 20-2-2012
C. 20-Februari-2012
D. 20 Februari 2012
E. 20 Februari ‘12

2. Penulisan tanggal surat undangan kegiatan yang tepat adalah ….
A. 20 Febr. 2012
B. 20-2-2012
C. Duri, 20 Februari 2012
D. 20 Februari 2012
E. Duri, 20 Februari ‘12

3. Kalimat penutup surat lamaran kerja yang tepat adalah ….
A. Atas perhatian Bapak saya mengucapkan terima kasih.
B. Atas perhatian Bapak, saya mengucapkan terima kasih banyak.
C. Atas perhatian bapak, saya ucapkan terima kasih.
D. Atas perhatian Bapak, saya mengucapkan terima kasih
E. Atas perhatian Bapak, kami mengucapkan terima kasih.

Sinonim, Antonim, Homonim, Hiponim, dan Polisemi

Sinonim, Antonim, Homonim, Hiponim, dan Polisemi

Kata Bersinonim, Berantonim, Berhomonim,
Berhomograf, Berhomofon, Berhiponim, dan Berpolisemi

a. Kata yang Bersinonim
Suatu kata yang mempunyai makna yang sama dan dapat saling menggantikan
disebut dengan sinonim.
Contoh: benar = betul
Contoh dalam kalimat:
- Jawaban Anda benar.
- Jawaban Anda betul.
Kadang ada juga kata-kata yang awalnya bermakna sama, tetapi kemudian
menjadi berbeda makna karena pengaruh makna konotasi yang terkandung
dalam kata itu. Contoh: kata buruh, pegawai, karyawan. Kata-kata jenis ini
termasuk kata bersinonim yang bernuansa.

b. Kata yang Berantonim
Antonim maksudnya adalah kata yang berbeda atau berlawanan
maknanya. Jenis-jenis kata antonim ini dapat dibedakan menjadi berikut
ini.
1) Antonim kembar, yaitu antonim yang melibatkan pertentangan antara
dua kata.
Contoh: hidup >< mati

2) Antonim majemuk, yaitu antonim yang melibatkan pertentangan antara
banyak kata.
Contoh: - Sepatu itu tidak merah.
Oleh karenanya, kalimat itu mencakup pengertian bahwa sepatu itu
putih, sepatu itu cokelat, dan sebagainya.

3) Antonim gradual, yaitu pertentangan dua kata dengan melibatkan
beberapa tingkatan. Contoh: - Rumah itu sederhana.
Contoh kalimat di atas bisa bermakna: tidak mewah dan sangat
sederhana.

4) Antonim hierarkis, yaitu pertentangan antara kata-kata yang maknanya
berada dalam posisi bertingkat.
Contoh: Januari-Februari-Maret, April, dan sebagainya.

5) Antonim relasional, yaitu pertentangan antara dua buah kata yang
kehadirannya saling berhubungan.
Contoh: suami-istri


c. Kata Berhomonim
Kata- kata yang bentuk dan cara pelafalannya sama, tetapi memiliki makna
yang berbeda disebut dengan kata berhomonim.
Contoh: - kata genting
Contoh dalam kalimat:
- Karena terjadi kerusuhan, Kota Ambon dalam keadaan genting. (gawat)
- Ayah sedang memperbaiki genting yang bocor. (atap)

d. Kata yang Berhomograf
Kata-kata yang tulisannya sama tetapi pelafalan dan maknanya berbeda
sering dikatakan sebagai kata yang berhomograf.
Contoh: kata apel
Contoh dalam kalimat:
- Adik suka makan buah apel.
- Karyawan itu wajib mengikuti apel pagi.

e. Kata yang Berhomofon
Kata-kata yang cara pelafalannya sama tetapi penulisan dan maknanya
berbeda sering disebut dengan homofon.
Contoh: kata bang
Contoh dalam kalimat:
- Bang Yogi naik sepeda motor.
- Ayah pergi ke bank untuk menyetor tabungan.

f. Kata yang Berhiponim
Kata-kata yang mempunyai hubungan antara makna spesifik dan makna
generik.
Contoh:
- ayam, kucing, kelinci, kuda merupakan hiponim dari hewan
- melati, mawar, anggrek, kenanga merupakan hiponim dari bunga

g. Kata yang Berpolisemi
Dalam bahasa Indonesia, sering dijumpai kata-kata yang menanggung
beban makna yang begitu banyak. Inilah yang disebut polisemi. Misalnya,
kata kepala.
Dari kata kepala ini dapat dijabarkan menjadi berikut ini.
1) Bagian atas suatu benda, contoh: kepala surat.
2) Sebagai kiasan atau ungkapan, contoh: kepala batu.
3) Berarti pemimpin, contoh: kepala negara

Laporan Hasil Diskusi

Laporan Hasil Diskusi

Laporan Hasil Diskusi
Secara terperinci, unsur-unsur yang harus ada dalam laporan hasil diskusi
adalah sebagai berikut.
a. Pendahuluan, yang terdiri atas:
1) latar belakang pelaksanaan diskusi,
2) tujuan diskusi,
3) langkah-langkah persiapan.

b) Uraian pelaksanaan, terdiri atas:
1) tempat dan waktu,
2) peserta,
3) prosesi jalannya diskusi,
4) rumusan hasil diskusi.

c) Penutup, yang terdiri atas:
1) kesimpulan,
2) saran-saran.

d) Lampiran

Forum Diskusi

Seseorang agar memiliki keterampilan berbicara secara baik dan benar dalam
forum-forum diskusi/seminar, maka dia harus menguasai hal-hal berikut ini.
a. Penguasaan masalah.
b. Penguasaan lafal dan intonasi.
c. Pengenalan situasi.
d. Keberanian berbicara.
e. Penguasaan bahasa/kekayaan kosakata dan gaya penyampaiannya
f. Sering latihan/kebiasaan.

Tujuan berbicara dalam forum apa pun tentulah didorong oleh keinginan
untuk menyampaikan ide atau gagasan kepada siapa yang diajak berbicara.
Dalam diskusi/seminar ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, mengingat
diskusi itu merupakan suatu forum musyawarah untuk memufakati suatu
masalah yang dihadapi bersama-sama.

Pihak-pihak yang terlibat dalam diskusi.
a. Moderator
Seorang anggota diskusi/seminar yang ditunjuk oleh panitia seminar/diskusi
untuk memimpin jalannya diskusi sampai selesai.
b. Notulen
Seorang anggota seminar yang ditunjuk oleh panitia dan moderator sebagai
pencatat dan perekam dalam proses jalannya seminar/diskusi.
c. Pembicara
Seorang ahli atau pakar yang dimintai oleh panitia untuk menjadi
pembicara atau memberikan materi dalam diskusi/seminar tersebut.
d. Peserta
Anggota seminar yang mengikuti seminar/diskusi dan mendaftar secara
langsung ataupun hanya sebagai partisipan.

Kewajiban-kewajiban peserta diskusi/seminar.
a. Berkemampuan mengusahakan terselenggarakannya diskusi secara lancar
dan tertib.
b. Sabar, adil, dan tidak memihak.
c. Mematuhi dan menjalankan peraturan diskusi yang telah dibuat/ditetapkan.
d. Bersama-sama anggota/sekretaris menyusun kesimpulan diskusi dan
mengumumkannya.
e. Menguasai pokok-pokok masalah yang didiskusikan.
Hak peserta diskusi.
a. Mematuhi aturan berdiskusi.
b. Menguasai/memahami pokok-pokok masalah.
c. Aktif menyumbangkan ide, gagasan, dan pokok-pokok pikirannya.
d. Menghargai pendapat orang lain.
e. Selalu menghindari sikap emosional dan alogis.
f. Mengajukan usul/pendapat setelah dipersilakan oleh ketua diskusi


Diskusi dan Macamnya

Diskusi dan Macamnya
Diskusi dan Macamnya

Diskusi ditinjau dari tujuannya dibedakan menjadi : (1). The Social Problem Meeting, merupakan metode pembelajaran dengan tujuan berbincang-bincang menyelesaikan masalah sosial di lingkungan; (2). The Open ended Meeting, berbincang bincang mengenai masalah apa saja yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dimana kita berada; (3). The Educational Diagnosis Meeting, berbincang-bincang mengenai tugas/pelajaran untuk saling mengoreksi pemahaman agar lebih baik.

Ditinjau dari Bentuknya, dibedakan menjadi :
1. Whole Group, merupakan bentuk diskusi kelompok besar (pleno, klasikal,paripurna dsb.)

2. Buz Group, merupakan diskusi kelompok kecil yang terdiri dari (4-5) orang.

3. Panel, merupakan diskusi kelompok kecil (3-6) orang yang mendiskusikan objek tertentu dengan cara duduk melingkar yang dipimpin oleh seorang moderator. Jika dalam diskusi tersebut melibatkan partisipasi audience/pengunjung disebut panel forum.

4. Syndicate Group, merupakan bentuk diskusi dengan cara membagi kelas menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari (3-6) orang yang masing-masing melakukan tugas-tugas yang berbeda.

5. Brainstorming, merupakan diskusi iuran pendapat, yakni kelompok menyumbangkan ide baru tanpa dinilai, dikritik, dianalisis yang dilaksanakan
dengan cepat (waktu pendek).

6. Simposium, merupakan bentuk diskusi yang dilaksanakan dengan membahas berbagai aspek dengan subjek tertentu. Dalam kegiatan ini
sering menggunakan sidang paralel, karena ada beberapa orang penyaji. Setiap penyaji menyajikan karyanya dalam waktu 5-20 menit diikuti dengan sanggahan dan pertanyaan dari audience/peserta. Bahasan dan sanggahan dirumuskan oleh panitia sebagai hasil simposium. Jika simposium melibatkan partisipasi aktif pengunjung disebut simposium forum. 7. Colloqium, strategi diskusi yang dilakukan dengan melibatkan satu atau beberapa nara sumber (manusia sumber) yang berusaha menjawab pertanyaan dari audience. Audience menginterview nara sumber selanjutnya diteruskan dengan mengundang pertanyaan dari peserta (audience) lain Topik dalam diskusi ini adalah topik baru sehingga tujuan utama dari diskusi ini adalah ingin memperoleh informasi dari tangan pertama.

8. Informal Debate, merupakan diskusi dengan cara membagi kelas menjadi 2 kelompok yang pro dan kontra yang dalam diskusi ini diikuti dengan
tangkisan dengan tata tertib yang longgar agar diperoleh kajian yang dimensi dan kedalamannya tinggi. Selanjutnya bila penyelesaian masalah tersebut dilakukan secara sistematis disebut diskusi informal. Adapun langkah dalam diskusi informal adalah : (1). menyampaikan problema; (2). pengumpulan data; (3). alternatif penyelesaian; (4). memlilih cara penyelesaian yang terbaik.

9. Fish Bowl, merupakan diskuasi dengan beberapa orang peserta dipimpin oleh seorang ketua mengadakan diskusi untuk mengambil keputusan. Diskusi model ini biasanya diatur dengan tempat duduk melingkar dengan 2 atau 3 kursi kosong menghadap peserta diskusi. Kelompok pendengar duduk mengelilingi kelompok diskusi sehingga seolah-olah peserta melihat ikan dalam mangkok.

10. Seminar, merupakan kegiatan diskusi yang banyak dilakukan dalam pembelajaran. Seminar pada umumnya merupakan pertemuan untuk
membahas masalah tertentu dengan prasaran serta tanggapan melalui diskusi dan pengkajian untuk mendapatkan suatu konsensus/keputusan
bersama. Masalah yang dibahas pada umumnya terbatas dan spesifik/tertentu, bersifat ilmiah dan subject approach.

11. Lokakarya/widya karya, merupakan pengkajian masalah tertentu melalui pertemuan dengan penyajian prasaran dan tanggapan serta diskusi secara teknis mendalam. Dalam diskusi ini bila perlu diikuti dengan demonstrasi/peragaan masalah tersebut. Peserta lokakarya pada umumnya
para ahli. Tujuannya mendapatkan konsensus/keputusuan bersama mengenai masalah tersebut. Telaahnya : Subject matter approach.



Menulis Laporan Diskusi

Menulis Laporan Diskusi
1. Mengenali Unsur-unsur dalam Laporan Hasil Diskusi
Diskusi bertujuan untuk memperoleh kesimpulan yang dapat disumbangkan
kepada pihak-pihak yang membutuhkan sumbangan pemikiran. Laporan
kegiatan diskusi disampaikan dalam bentuk tertulis agar lebih jelas, lengkap,
koherensif. Pihak yang membuat laporan diskusi adalah panitia penyelenggara/
pelaksana, sedangkan laporan ditujukan atau diserahkan kepada pihak yang
membawakan panitia. Oleh pihak yang menerima laporan, hasil-hasil diskusi
dapat ditindaklanjuti dengan cara memublikasikannya kepada khalayak umum.
Laporan diskusi harus singkat, jelas,
terperinci, dan lengkap. Hal ini dimaksudkan
untuk memudahkan pihak penerima
laporan dalam menangkap kandungan
pokok laporan. Sementara itu, isi laporan
sebaiknya mencakup hal-hal penting
penyelenggaraan diskusi. Hal-hal yang
lazim terdapat dalam laporan diskusi
adalah badan penyelenggara, tempat,
waktu penyelenggaraan, tujuan, dan
rumusan diskusi.
Secara terperinci, unsur-unsur yang harus ada dalam laporan hasil diskusi
adalah sebagai berikut.
a. Pendahuluan, yang terdiri atas:
1) latar belakang pelaksanaan diskusi,
2) tujuan diskusi,
3) langkah-langkah persiapan.
b) Uraian pelaksanaan, terdiri atas:
1) tempat dan waktu,
2) peserta,
3) prosesi jalannya diskusi,
4) rumusan hasil diskusi.
c) Penutup, yang terdiri atas:
1) kesimpulan,
2) saran-saran.
d) Lampiran
2. Menyusun Laporan Hasil Diskusi
Perhatikan laporan diskusi yang lengkap dengan unsur-unsurnya berikut ini!
LAPORAN KEGIATAN DISKUSI
TEMA:
SOLUSI PENCEMARAN LINGKUNGAN AKIBAT
LIMBAH RUMAH TANGGA
Diselengarakan oleh:
Mahasiswa Pencinta Alam FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta
1 Juni 2007
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pelaksanaan Diskusi
Perkembangan iptek di berbagai bidang membuat perubahan di
berbagai sektor kehidupan, khususnya lingkungan dan tatanan
kehidupan, peradapan manusia, serta nilai-nilai budaya bangsa di
Indonesia. Perubahan tersebut berimbas pula pada masalah-masalah
lingkungan, baik skala besar maupun skala kecil, seperti rumah tangga.
Keengganan warga mengolah sampah rumah tangga kadang kala
berakibat fatal pada pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, perlu
dicari solusi yang tepat untuk mengatasi pencemaran lingkungan yang
diakibatkan oleh limbah rumah tangga.
Di Indonesia, pencemaran lingkungan sudah menjadi masalah yang
besar sehingga mengakibatkan terjadinya polusi dan perubahan nilainilai
kehidupan dalam masyarakat, khususnya untuk sadar terhadap
kebersihan lingkungannya. Pola kehidupan masyarakat kita sedang
berubah dan bergerak dari agraris menuju masyarakat industrial, dari
tradisional-statis menuju modern-dinamis, dari nilai lokal-daerah menuju
nilai global-universal, dari keseragaman menuju keberagaman, dari satu
nilai menuju serba nilai. Inilah wajah masyarakat kita yang sedang
berubah akhir-akhir ini sebagai konsekuensi logis dari berlangsungnya
era globalisasi dunia.
Fenomena-fenomena perubahan transformasi sosial budaya dan
lingkungan tersebut di atas tidak dapat dihindarkan lagi. Merujuk
fenomena-fenomena di atas, maka dalam rangka memperingati hari
Bumi se-Dunia tanggal 1 Juni, Mahasiswa Pencinta Alam FKIP UNS
bekerja sama dengan Pusat Studi Lingkungan Hidup, menyelenggarakan
diskusi. Kegiatan diskusi ini diharapkan dapat menjadi media
ekspresi, dan berkolaborasi antara masyarakat pencinta, pemerhati, dan
para ahli lingkungan untuk memadukan aneka pemikiran dalam upaya
mewujudkan solusi pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh
sampah rumah tangga.
B. Tema
Solusi pencemaran lingkungan akibat limbah rumah tangga
Subtema:
1. Ada apa dengan limbah rumah tangga?
2. Pemanfaatan teknologi dalam mengolah limbah rumah tangga.
3. Penanganan limbah rumah tangga yang efektif.
4. Pemasyarakatan teknik pengelolaan limbah rumah tangga.
5. Limbah rumah tangga dan penanganannya.
6. Peran media cetak dalam pemasyarakatan sadar lingkungan dan
solusi penanganan limbah rumah tangga.
C. Tujuan
1. Menghimpun gagasan, pikiran, pendapat mengenai solusi pencemaran
lingkungan akibat limbah rumah tangga serta impilkasinya
terhadap kesehatan lingkungan
2. Memperoleh informasi aktual mengenai pengelolaan limbah rumah
tangga dari pencinta, pemerhati, dan ahli lingkungan.
3. Memperoleh masukan yang dapat dipertimbangkan dalam
pengambilan kebijakan agar penanganan limbah rumah tangga
lebih efektif.
D. Manfaat Diskusi
Diskusi ini diharapkan dapat diperoleh hasil yang efektif dari para
ahli lingkungan dalam pengelolaan limbah rumah tangga yang sering
mengakibatkan pencemaran lingkungan.
BAB II PELAKSANAAN DAN HASIL DISKUSI
A. Pelaksanaan
1. Topik Diskusi dan Pembicara
Dalam diskusi ini ditampilkan pembicara utama berikut.
a. Mr. John Custer (SIL-International-Indonesia)
"Solusi Efektif Penangganan Limbah Rumah Tangga"
b. Dr. rer.nat. Sadjidan, M.Si. (Ketua Prodi Biologi Pascasarjana
UNS )
"Pengolahan Limbah Rumah Tangga dalam Perspektif
Lingkungan Hidup"
c. Drs. Sugiyanto, M.Si.,M.Si. (Dosen Lingkungan Hidup
Pascasarjana UNS)
"Implementasi Teknik dan Strategi penanganan Limbah Rumah
Tangga di Masyarakat"
2. Peserta
1. Guru IPS dan Biologi SMP dan SMA.
2. Kepala sekolah SMP dan SMA
3. Mahasiswa S-1, S-2, san S-3 Geografi, Biologi, dan Kehutanan
4. Dosen Geografi, Biologi, dan Kehutanan
5. Pemerhati lingkungan Hidup
6. Peneliti dan praktisi lingkungan hidup
7. Mahasiswa Pencinta Alam
3. Waktu dan Tempat
Diskusi ini dilaksanakan di Aula FKIP Universitas Sebelas Maret
Surakarta, Jl. Ir. Sutami No. 36 A pada 1 Juni 2007 pukul 08.00 sd.
16.00 WIB
4. Penyelenggara
Mahasiswa Pencinta Alam FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta
B. Hasil Diskusi
1. Peserta
Peserta dalam diskusi tanggal 1 Juni 2007 telah memenuhi target
karena diikuti oleh sekitar 250 peserta. Padahal target semula
ditargetkan hanya 150 peserta. Oleh karena itu, diskusi ini dianggap
telah mencapai target.
2. Pelaksanan Diskusi
Diskusi ini dibuka oleh Pembantu Dekan Tiga FKIP Universitas
Sebelas Maret, Drs. Amir Fuady, M.Pd. Pelaksanaan diskusi sangat
menarik dan apresiatif, baik dari pembicara dan peserta. Ketiga
pembicara menyampaikan berbagai materi mengenai solusi
pencemaran lingkungan akibat limbah rumah tangga. Oleh karena
itu, para peserta pun sangat antusias mengikuti diskusi ini.
3. Kendala-kendala
Ada sedikit kendala terkait dengan LCD, akan tetapi dapat diatasi
dengan baik.

BAB III PENUTUP
A. Simpulan
Kesimpulan dari kegiatan diskusi ini telah dilaksanakan dengan baik
dan lancar. Simpulan diskusi ini adalah bahwa limbah rumah tangga
harus dikelola secara baik dengan memanfatkan teknologi sederhana.
Dengan demikian tidak mengakibatkan pencemaran lingkungan.
B. Saran
Berdasarkan hasil diskusi selanjutnya, disarankan bahwa:
1. Diperlukan diskusi lebih lanjut dengan mendatangkan berbagi pihak
untuk memperoleh hasil pemikiran yang lebih luas;
2. Dilakukan persiapan yang lebih maksimal.
Demikianlah laporan kegiatan diskusi. Semoga bermanfaat dan
segala kekurangan dan kelemahan dalam kegiatan ini diharapkan
menjadi pengalaman yang berharga untuk kegiatan selanjutnya.
Surakarta, 5 Juni 2007
Ketua Panitia,
Ttd.
M. Yuma Arridhwan Adiputra
NIM K12006009
3. Melampirkan Notula
Notula merupakan catatan singkat mengenai jalannya persidangan (rapat)
ataupun diskusi serta hal-hal yang dibicarakan dan diputuskan. Notula tidak
memiliki format yang standar. Hal ini tergantung pada kesepakatan organisasi
yang menyelenggarakan acara notula tersebut.
Pola Penulisan Notula yang Lengkap
Dalam diskusi yang bersifat resmi, biasanya ada seseorang petugas yang
membuat catatan mengenai jalannya diskusi secara keseluruhan. Petugas
tersebut disebut notulis dan catatannya disebut notula (ada juga yang menyebut
notulen). Seorang notulis yang baik harus memiliki kecermatan dan kepandaian
dalam memilih dan mengikuti jalannya diskusi atau seminar secara keseluruhan.
Adapun unsur-unsur yang harus dicatat notulis adalah sebagai berikut.
a. Nama diskusi
b. Tempat dan waktu diskusi
c. Pemandu diskusi
d. Penyaji/pembicara diskusi
e. Jumlah peserta yang hadir
f. Materi pokok diskusi
g. Permasalahan yang dihadapi
h. Penanggulangan masalah
i. Saran dan usulan peserta
j. Kesimpulan diskusi
k. Nama dan tanda tangan notulis.
Berdasarkan laporan hasil diskusi yang dituliskan di atas buatlah notula dengan
menggunakan format di bawah ini! Salinlah format tersebut dalam buku tugas Anda!
Selain menggunakan format tersebut, Anda juga bisa menggunakan format lain.
Notula Diskusi
Judul Diskusi : .....................................
Tempat dan waktu : .....................................
Penyaji/Pembicara : .....................................
Moderator : .....................................
Acara
1. Pembukaan : .....................................
2. Penyajian : .....................................
3. Tanya-Jawab : .....................................
4. Saran peserta : .....................................
5. Simpulan diskusi : .....................................
Notulis,
(nama siswa)
2. Melampirkan Daftar Hadir
Menuliskan laporan diskusi juga diberi lampiran daftar hadir atau biasa
disebut presensi. Daftar hadir sebagai bukti banyaknya peserta yang hadir
dalam suatu diskusi. Daftar hadir biasanya dibuat rangkap untuk lampiran
laporan pertanggungjawaban. Tidak ada format standar dalam membuat daftar
hadir. Format tergantung dari instansi atau lembaga yang mengadakan diskusi.
Berikut ini contoh format yang bisa digunakan dalam penulisan daftar hadir/
presensi.
PRESENSI/DAFTAR HADIR DISKUSI
Tema:
Sosialisasi dan Implementasi
Kurikulum Tingkat Satuan Pendididkan
Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah
Kamis, 5 Mei 2007
No.
Nama Peserta
Diskusi
Nama Instansi yang
Mengutus
Tanda Tangan
1.
2.
.........................
.........................
................................
................................
1. ........................
2. ........................


elakukan diskusi dengan tata cara yang benar 12.1
Dari Crayonpedia
Langsung ke: navigasi, cari
Melakukan Diskusi dengan Tata Cara yang Benar
Salah satu cara memecahkan permasalahan adalah dengan berdiskusi. Dengan saling bertukar pikiran dan wawasan, permasalahan yang rumit niscaya dapat diuraikan dan pada akhirnya akan diperoleh jalan keluarnya.
Proses diskusi akan berjalan secara efektif jika peserta menyadari
hakikat diskusi dan memegang teguh prinsip-prinsip pelaksanaan diskusi.
Berikut ini beberapa prinsip berdiskusi yang harus diperhatikan.
1. Diskusi merupakan forum ilmiah untuk bertukar pikiran dan wawasan dalam menyikapi suatu permasalahan yang dihadapi bersama. Diskusi bukan forum untuk berbagi pengalaman (sharing), perasaan (curhat), kepentingan (musyawarah), atau ilmu kepintaran (mengajar).
2. Dalam diskusi, harus terjadi dialog atau komunikasi intelektual dan ilmiah. Dalam hal ini, harus dijauhkan unsur emosional dan mengabaikan kedekatan hubungan personal sehingga terlahir pemikiran – pemikiran yang rasional dan objektif.
3. Diskusi merupakan forum resmi, formal, dan terbuka. Oleh karena itu, proses komunikasi menggunakan bahasa nasional yang baku sehingga dapat dipahami semua kalangan dengan baik. Diskusi bukan forum kekeluargaan yang ditujukan pada kelompok terbatas.
4. Diskusi berlangsung dalam situasi yang tertib, teratur, dan terarah serta bertujuan jelas. Oleh karena itu, diperlukan adanya perangkat dan instrumen pendukung seperti ketua/moderator, notulis, dan tata tertib.
Proses diskusi dikatakan hidup dan sehat jika seluruh peserta terlibat secara aktif dengan mengikuti tatanan yang ada. Sebaliknya, akan dikatakan tidak sehat jika proses bertukar pikiran didominasi oleh satu atau dua pikiran saja.

Menyampaikan Gagasan dan Tanggapan dengan Alasan yang Logis dalam Diskusi
Inti dari kegiatan diskusi adalah terjadinya proses bertukar pikiran
Antar peserta diskusi. Peserta di harapkan menyampaikan pendapatnya
terhadap permasalahan yang dihadapi. Selanjutnya pendapat tersebut harus ditanggapi oleh peserta yang lain. Bermacam-macam bentuk tanggapan dapat disampaikan, misalnya dengan mempertanyakan maksud dari pendapat tersebut jika dianggap belum jelas. Tanggapan juga dapat disampaikan dengan, menyatakan sikap setuju atau tidak setuju/mendukung atau tidak mendukung terhadap pendapat yang telah dikemukakan. Munculnya berbagai sikap pikiran dan tanggapan yang berbeda-beda itu merupakan hal yang positif dalam kegiatan berdiskusi. Semakin banyak tanggapan yang muncul menjadikan proses berdikusi semakin hidup dan dinamis.
Meskipun demikian, hidupnya proses berdiskusi tidak selalu menjamin hasil yang diperoleh akan baik. Hal itu dapat terjadi jika pendapat dan tanggapan yang muncul hanya kata-kata kosong yang tidak ada isinya. Selain itu pendapat yang dikemukakan lemah, tidak bersandar dan tanpa disertai alas an yang logis. Oleh karena itu dalam berdiskusi , setiap pendapat dan tanggapan yang dikemukakan harus disertai alas an atau argument yang logis dan berdasar. Pendapat juga harus disampaikan dengan bahasa yang efektif, sopan dan jelas. Hal itu merupakan unsure penting yang harus diperhatikan dalam diskusi.



PERBEDAAN PENDAPAT YANG DIBENARKAN
Islam membenarkan perbedaan pendapat apabila berhadapan dengan isu-isu cabang (furu’) dengan syarat pokoknya (ushul) berdiri di atas sesuatu yang disepakati. Pokok atau ushul yang dimaksudkan adalah al-Qur’an dan al-Sunnah. Al-Qur’an dan al-Sunnah saja tidak cukup, kerana sejarah telah membuktikan kehadiran banyaknya individu atau aliran menyeleweng yang tetap merujuk kepada al-Qur’an dan al-Sunnah. Kenapa mereka bisa menyeleweng? Karena mereka menafsirkan ke dua sumber tersebut berdasarkan penafsiran versi mereka sendiri. Oleh sebab itu penafsiran perlu ditambah dengan syarat-syaratnya yaitu berdasarkan pemahaman para sahabat (kerana merekalah yang paling memahami tujuan, konteks dan cara mempraktikkan al-Qur’an dan al-Sunnah) dan menggunakan kaidah-kaidah ilmu yang telah ditetapkan oleh ilmuwan Islam.
“Kaedah-kaedah ilmu”, yang dimaksudkan adalah ilmu Ushul al-Tafsir, ilmu Takhrij Hadith, ilmu Ushul al-Fiqh dan sebagainya. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
Ilmu Ushul al-Tafsir antara lain melingkupi bentuk penyusunan ayat, kategori ayat antara Makkiyyah dan Madaniyyah, antara Muhkamat dan Mutasyabihat, Nasikh dan Mansukh dan berbagai metode dalam menafsirkan sebuah ayat.
Ilmu Takhrij Hadith adalah mengambil sebuah hadis daripada kitabnya yang asal, menelusuri sanad-sanad atau jalan-jalan periwayatannya, menyimak kedudukan para perawinya dari sudut al-Jarh wa al-Ta’dil dan akhirnya menilai derajat hadis tersebut apakah sahih, hasan, dhaif dan seterusnya.
Ilmu Ushul al-Fiqh adalah ilmu yang menggariskan metode-metode untuk mengeluarkan hukum daripada nas al-Qur’an dan al-Sunnah. Selain itu hukum juga boleh dikeluarkan melalui metode lain seperti ijma’, qiyas, istihsan, istihlah, qaul shahabah dan sebagainya.
Mungkin ada yang bertanya, jika pokok atau ushulnya adalah sesuatu yang disepakati, kenapa hasil yang muncul adalah berbeda-beda? Jawabannya adalah sebagai berikut:
Sebagian nas, yakni ayat al-Qur’an atau al-Sunnah, ada yang memiliki satu maksud (Qath’ie), manakala sebagian lainnya ada yang memiliki beberapa maksud (Dzanni). Terhadap nas yang memiliki satu maksud, memang tidak dibenarkan adanya perbedaan pendapat. Akan tetapi bagi nas yang memiliki beberapa maksud, perbedaan pendapat mungkin terjadi, dan ini dibenarkan.
Setiap hadis perlu dinilai derajat kekuatannya sebelum dapat dijadikan sumber hukum. Akan tetapi dalam menilai kekuatan hadis, banyak pendapat yang muncul. Mungkin sebagian tokoh menilai sebuah hadis adalah sahih, sedangkan sebagian tokoh yang lain menilai hadis yang sama sebagai dhaif. Ini adalah perbedaan pendapat yang dibenarkan, asalkan tokoh-tokoh tersebut layak untuk menilai derajat hadis.
al-Qur’an dan al-Sunnah perlu dipahami berdasarkan pemahaman para sahabat dan kaidah-kaidah ilmu yang telah digariskan oleh para ilmuwan Islam. Namun adakalanya timbul perbedaan dalam memilih metode yang paling tepat, sehingga akhirnya menghasilkan kesimpulan hukum yang berbeda. Ini sekali lagi merupakan perbedaan yang dibenarkan asalkan dihasilkan oleh mereka yang layak untuk berijtihad.
Ada tiga cara untuk mendapatkan rahmat Allah SWT apabila berhubungan dengan pendapat-pendapat yang masuk dalam kategori ini, yaitu:
1. Menerima dan melaksanakan semua pendapat - Jika di dalam sebuah perkara terdapat perbedaan pendapat, maka hendaklah diterima dan dilaksanakan semua pendapat yang ada. Bila ini tidak dilakukan, orang awam akan menyangka bahwa hanya ada satu pendapat untuk perkara tersebut dan berkeras bahwa hanya pendapat itulah yang benar. Ini menyebabkan kejumudan dan perpecahan dalam umat Islam. Karena masyarakat akan menyangka bahwa hanya apa yang mereka praktekkan saja benar, sedangkan apa yang dipraktekkan oleh masyarakat di tempat lain adalah salah.
Sebagai contoh, jika imam membaca Basmallah dengan kuat ketika sholat Maghrib, maka hendaklah dia membaca Basmallah dengan perlahan bagi sholat Isya. Jika hari ini imam membaca doa qunut ketika sholat subuh, hendaklah keesokan harinya dia tidak membaca doa qunut. Dengan demikian masyarakat menyadari, bahwa qunut shubuh adalah masalah furu’ dan tidak patut digunakan untuk memecah belah masyarakat.
2. Memberi prioritas kepada usaha lain yang lebih penting - Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam keberagaman pendapat, seseorang mampu mengkaji dan mengunggulkan satu pendapat yang paling kuat (rajih). Akan tetapi apa yang dianggap kuat olehnya mungkin dianggap lemah (marjuh) oleh orang lain, demikian pula sebaliknya. Perdebatan masalah ini tidak akan menemukan titik akhir.
Bagi orang awam, jangan buang-buang waktu dengan perdebatan tersebut. Memerah pikiran dan tenaga untuk membedakan antara yang rajih dan marjuh tidak sepatutnya menjadi prioritas seorang Muslim yang hendak mencari rahmat Allah pada zaman ini. Banyak isu lain yang patut diberikan prioritas seperti memberantas bid’ah, membetulkan penyelewengan agama oleh golongan Islam Liberal, Syi’ah, Orientalis dan media, berdakwah kepada golongan bukan Islam, dan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Oleh sebab itu hendaklah seorang Muslim melaksanakan Fiqh al-Awlawiyyat yaitu memberikan prioritas berdasarkan tempat, waktu, dan keadaan.
3. Memberi perhatian kepada pendapat yang lebih memudahkan - Seandainya dalam beragam pendapat, terdapat pendapat atau hukum yang lebih memudahkan umat islam, maka hendaklah diberi perhatian lebih kepada hukum tersebut. Contohnya terdapat dalam masalah layak atau tidaknya seseorang itu dianggap dalam keadaan musafir.
Pendapat pertama menetapkan jarak minimum dan waktu maksimum yang membolehkan seseorang itu dianggap musafir. Yang banyak dipraktekkan di Indonesia adalah untuk dianggap musafir, maka seseorang itu perlu melakukan perjalanan lebih 90 km dan kurang dari 3 hari.
Sedangkan pendapat kedua tidak menetapkan syarat apapun. Asalkan seseorang itu melakukan suatu perjalanan yang melebihi kebiasaan dan tidak berniat menetap dalam perjalanan tersebut, maka dia boleh menqasarkan sholatnya dan berbuka jika sedang berpuasa.
Jika dianalisa, pendapat kedua lebih memudahkan dan mendekati tujuan syari’at islam yang ingin menghindari kesulitan bagi seseorang yang sedang bermusafir.
Adakalanya sebagian orang keberatan untuk menyampaikan sesuatu yang memudahkan umat karena sikap berhati-hati dan khawatir kemudahan itu akan dipermainkan oleh masyarakat. Keberatan ini tidak sepatutnya timbul karena:
1. Sikap berhati-hati memang baik, namun hendaklah juga berhati-hati agar sikap tersebut tidak diletakkan di tempat yang salah. Menyembunyikan sesuatu yang mudah berart menyembunyikan Islam yang sebenarnya.
2. Orang yang mempermainkan hukum agama bukanlah mereka yang mempraktekkan kemudahan agama secara berlebih-lebihan, akan tetapi adalah mereka yang tidak melaksanakan hukum agama sama sekali. Malah yang patut dikhawatirkan adalah, kenapa sebagian masyarakat tidak melaksanakan hukum agamanya? Mungkinkah mereka selama ini dipaksa dengan berbagai hukum yang berat dan azab yang menakutkan sehingga mereka menjadi putus asa dan menjauh dari agama?
PERBEDAAN PENDAPAT YANG DILARANG
Perbedaan pendapat yang terlarang adalah apabila dihasilkan bukan dari pokok (ushul) yang disepakati. Dengan kata lain, perbedaan tersebut dihasilkan dari sumber lain selain dari al-Qur’an dan al-Sunnah, atau berdasarkan pemahaman yang berbeda dengan pemahaman para sahabat dan kaidah-kaidah ilmu.
Kesalahan-kesalahan tersebut adalah:
1. Menjadikan para tokoh agamawan seperti syaikh, imam dan ustaz sebagai sumber pokok agama sehingga menerima apa saja pendapat dan hukum yang mereka keluarkan. Ini adalah satu kesalahan kerana peranan para syaikh, imam dan ustaz adalah menyampaikan al-Qur’an dan al-Sunnah berdasarkan pemahaman sahabat dan kaedah-kaedah ilmu, bukannya menggantikan al-Qur’an dan al-Sunnah dengan teori atau kaedah tersendiri.
2. Menjadikan amalan masyarakat dan tradisi sebagai hujah agama, sehingga apa yang dilakukan oleh majoriti dijadikan dalil yang mengatasi al-Qur’an dan al-Sunnah. Ini juga adalah satu kesalahan kerana amalan masyarakat dan tradisi bukanlah hujah agama.
3. Menjadikan jamaah masing-masing sebagai tujuan beragama dan menganggap jamaah tersendiri adalah yang paling benar dan paling baik dibandingkan dengan jamaah yang lain. Hasilnya, setiap jamaah akan ada ciri-ciri tersendiri yang dijadikan dalil agama sehingga membelakangi al-Qur’an dan al-Sunnah.
4. Menjadikan kedudukan, kemasyhuran dan kepentingan sendiri sebagai agenda beragama, sehingga ke tahap sanggup menyampaikan pendapat atau hukum yang berlawanan dengan pemahaman yang benar terhadap al-Qur’an dan al-Sunnah.
Walaupun perbedaan pendapat jenis ini adalah dilarang, akan tetapi kita tetap berusaha mencari rahmat Allah SWT dalam berinteraksi dengannya.
Pertama : Berbaik sangka
1. Mungkin orang ini tidak tahu sedang melakukan kesalahan, dan selama ini tidak ada orang yang menerangkan bahwa itu salah.
2. Mungkin ada kesalahpahaman sehingga apa yang disandarkan sebagai kesalahan seseorang, sebenarnya tidak berasal dari orang tersebut.
3. Mungkin orang yang dianggap melakukan kesalahan sebenarnya memiliki hujah yang betul dan tidak diketahui oleh pihak yang menyalahkannya.
Kedua : Menentukan format dialog
Dialog tidak akan menghasilkan manfaat, jika tidak ditetapkan format dialognya. Format dialog yang dimaksudkan adalah mencari dan menyetujui pendapat-pendapat yang paling mendekati al-Qur’an dan al-Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat dan metode-metode keilmuwan dalam Islam.
Ketiga : Berdiskusi berdasarkan adab Islam
Keempat : Menjauhi perdebatan
Kelima : Bersikap adil dalam menerima hasil diskusi
Adil sebelum dialog adalah berbaik sangka, adil ketika berdiskusi adalah bersikap lemah-lembut, sedangkan adil setelah berdialog adalah:
1. Jika teman berdialog mengakui kesalahannya, maka bersyukurlah kepada Allah dan jangan mengungkit kesalahannya yang lama.
2. Jika kesalahan yang dilakukan oleh teman dialog itu telah tersebar meluas di kalangan masyarakat, hendaklah dijelaskan kepadanya tentang kesalahan tersebut. Walaupun dia tidak menerima kesalahannya, mungkin di kemudian hari dia akan mengakui kesalahannya dan kemudian bertobat.
3. Jika teman dialog kita tetap ngotot dengan kesalahannya, mungkin cara kita berdialog yang tidak tepat atau mungkin orang itu memerlukan waktu untuk berpikir.
PERSATUAN UMAT DAN KEBERAGAMAN PENDAPAT
Kebanyakan orang menyerukan umat Islam untuk meninggalkan perpedaan pendapat supaya bisa bersatu. Persatuan umat Islam memang penting, tapi ada beberapa kelemahan apabila dikaitkan dengan isu perbedaan pendapat, yaitu:
1. Apabila diseru kepada persatuan umat dengan cara menghindari perbedaan pendapat, seruan seolah-olah melarang masyarakat untuk berbeda pendapat. Ini adalah cara yang salah, karena berbeda pendapat adalah fitrah manusia dan kehendak Allah SWT. Maka cara yang benar bukan menyuruh umat untuk menghindari perbedaan pendapat, tetapi mengajar umat cara berinteraksi dengan keberagaman pendapat.
2. Perbedaan pendapat terbagi dua yaitu yang dibenarkan dan yang dilarang. Apabila berhadapan dengan perbedaan pendapat yang dibenarkan, maka persatuan umat haruslah didahulukan. Ini karena isu cabang tidak boleh diunggulkan atas isu pokok.
Sedangkan bagi perbedaan pendapat yang dilarang, dialog amat diperlukan dibandingkan persatuan umat Islam. Ini karena perbedaan pendapat jenis ini melibatkan isu pokok (ushul) agama. Jika tidak ditangani dengan baik, maka akan merusakkan pokok yang lain, yaitu persatuan umat Islam.
Sebagai contoh, aliran anti hadis, aliran Syi’ah, pemikiran islam Liberal dan amalan bid’ah tidak boleh didiamkan demi menjaga persatuan umat Islam. Jika didiamkan, dia akan menyelinap secara bertahap sehingga apa yang batil akan dianggap benar oleh umat Islam. Persatuan mungkin terpelihara, tetapi apa arti persatuan jika bercampur aduk antara kebenaran dan kebatilan?
3. Terdapat segelintir pihak yang coba menjustifikasikan perbedaan pendapat yang dilarang ke atas slogan “Demi persatuan umat Islam”. Padahal Allah SWT telah berfirman: “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (agama Islam), dan jangan kamu bercerai-berai”. (Ali-Imran 3;103). yang dimaksud dengan tali Allah adalah agama Islam yang berdasarkan al-Qur’an dan al-Sunnah yang shahih berdasarkan pemahaman para sahabat dan kaidah-kaidah yang telah digariskan oleh para ilmuwan Islam. Kita tidak boleh bersatu di atas “tali masyarakat”, “tali pendapat tokoh sekian-sekian”, “tali kemodrenan”, “tali pemikiran baru” atau tali apa saja selain “tali Allah”.
4. Menyampaikan kebenaran demi membetulkan amalan masyarakat tidak boleh dihalangi atas alasan ia akan merusakkan persatuan umat Islam (baca: masyarakat). Seandainya benar menyampaikan ayat-ayat Allah dan hadis-hadis Rasul-Nya akan menyebabkan perpecahan masyarakat, maka faktor perpecahan tidak boleh ditujukan kepada usaha menyampaikan. Sebaliknya hendaklah ditujukan kepada “masyarakat” yang enggan menerimanya. Ini kerana jika faktor perpecahan ditujukan kepada usaha menyampaikan, kita secara tidak langsung menyalahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kerana usaha baginda menyampaikan risalah Islam telah juga menyebabkan perpecahan di kalangan masyarakat Arab saat itu






Kritik Sastra


Kritik Sastra

Kritik Sastra

Kritik sastra adalah menilai kualitas karya sastra secara objektif, baik buruknya, dan kekuatan serta kelemahan karya tersebut.
Baca dengan cermat contoh kritik sastra berikut.


Pengagungan Penjajah dalam Novel Siti Nurbaya

Novel Siti Nurbaya karangan Marah Rusli siapa yang tidak kenal. Novel ini telah menjadi sebuah ungkapan/pameo di tengah masyarakat. Karya ini telah menjadi sebuah lukisan sejarah yang dihafal semua orang Indonesia hari ini. Kebanyakan kita memahami bahwa Siti Nurbaya adalah perlambang bagi seorang wanita yang dijajah hak-haknya sebagai wanita. Ia dipaksa menikah dengan seorang lelaki jahat yang tidak ia sukai. Siti Nurbaya tak bisa berbuat apa-apa dan pasrah kepada nasib, pun pasrah kepada takdir kelemahan seorang wanita.
Anggapan tentang tertindasnya Siti Nurbaya dalam novel ini tidak sepenuhnya benar. Lebih tepatnya, lebih banyak salahnya daripada benarnya. Benar kalau Siti memang terpaksa untuk mau menikah dengan Datuk Maringgih. Tapi, adalah salah kalau ada orang/pihak yang memaksa dia untuk menikah dengan Datuk Maringgih, apalagi ayahnya. Ayahnya tak pernah mau menyerahkan Siti kepada Datuak Maringgih. Akan tetapi, Siti-lah yang memaksa ayahnya agar ayahnya mengizinkan dia memenuhi permintaan Datuk Maringgih, yang meminta Siti untuk menjadi istrinya. Alasan pemaksaaan Siti kepada ayahnya adalah ia tidak tega melihat ayahnya diseret polisi ke dalam penjara. Siti rela jadi tumbal bagi kebebasan ayahnya. Ayahnya sangat sayang pada Siti, dan ia rela untuk masuk penjara.
Jadi, sebenarnya tidak ada kawin paksa dalam Siti Nurbaya. Yang ada adalah menikah karena dipaksa keadaan atas pilihan sendiri.
Hal di atas adalah kesalahan anggapan kebanyakan orang kepada novel Siti Nurbaya. Ada pula sesuatu yang patut dipertanyakan kepada novel Siti Nurbaya ini, sebagai renungan bagi kita pembaca. Hal itu adalah suatu kenyataan yang banyak tidak disadari pembaca bahkan mungkin penulis novel ini sendiri. Kenyataan itu adalah Syamsul Bahri sebagai tokoh utama telah membelot ke pihak penjajah Belanda.
Semestinya penjajah adalah pihak yang kita pandang hina sebab ia adalah musuh kita. Penjajah Belanda telah menghinakan bangsa Indonesia/Nusantara ini beratus-ratus tahun. Kita ditindas, diperbudak, diperbodoh, diperas harta kekayaan kita dan kekayaan negeri kita. Penjajahan adalah sesuatu yang patut dikutuk, harus dihapuskan. Jangankan mengangungkan penjajah ini, malah semestinya kita rela mati demi angkat kakinya mereka dari tanah pertiwi. Harus penulis katakan bahwa dengan membelotnya tokoh utama, Syamsul Bahri, menyatakan suatu keadaan bahwa Belanda dipandang tinggi oleh penulis novel Siti Nurbaya ini.
Syamsul Bahri telah dikondisikan kepada pembaca oleh penulis bahwa ia adalah seorang yang pintar, terpelajar, keturunan mulia, santun, dan gagah. Seorang tokoh utama yang mendekati sempurna dan payah dicari bandingannya dengan tokoh lain yang ada dalam cerita ini. Demikian seterusnya Syamsul Bahri dikondisikan. Ketika ia salah pun, yaitu saat tertangkap tangan berduaan dengan Siti yang telah resmi menjadi istri orang, kita pembaca masih bisa memahaminya. Mengapa kita bisa maklum? Karena telah dilatari dengan kondisi perasaan kedua orang itu yang memang tak kuat lagi menahan rasa di hati mereka. Cara pembenaran untuk menutupi kesalahan.
Termasuk hal yang kemudian tak disadari pembaca adalah ia terus berpihak kepada Syamsul Bahri sekalipun ia telah mengkhianati bangsanya sendiri. Sedemikian cukup dan masuk akal alasan untuk pembenaran pilihan Syamsul Bahri ini. Pembenaran yang dilakukan penulisnya yang akan diamini saja pembaca jika ia tidak teliti dan kritis. Dengan membelotnya tokoh utama ke pihak penjajah itu artinya penulis telah mengatakan bahwa penjajah berada di pihak yang lebih tinggi (lebih mulia, lebih benar, dsb.) dibanding bangsa sendiri. Penjajah diwakili tokoh utama yang terus dicapkan stempel kebaikan pada dirinya. Pribumi diwakilkan kepada Datuk Maringgih yang dari awal cerita telah digambarkan sedemikian jahat. Tanpa sadar kita terus membela Syamsul Bahri dan bisa menerima keputusannya menjadi penkhianat bangsa.
Ada usaha untuk mengagungkan penjajah dalam novel Siti Nurbaya ini ketika tokoh utama yang disayang oleh penulis/pembaca berpihak kepada penjajah. Ini suatu kesalahan yang nyata dan kenyataan itu memang sering pahit.
Penulis : Abu Syifa


Latihan

Ada tingkah laku yang tidak patut dicontoh dari tokoh sang anak dalam cerita Rembulan di Mata Ibu. Ia merupakan cermin tipe anak yang tidak taat pada orang tuanya. Sayangnya, oleh penulis tokoh anak ini diposisikan utama dalam hal pemikiran. Sang anak yang tak sadar akan salahnya tingkah lakunya itu dalam pikirannya perbuatannya adalah benar. Penulis lalu menggali alasan-alasan mengapa si anak berbuat seperti itu. Alasan yang sebenarnya berisi pembenaran dari perbuatan. Timbullah kesan bahwa sang anak memang pantas berbuat seperti yang ia lakukan itu.
Kalimat yang tepat untuk melengkapi kritik sastra di atas adalah ….
A. Selalu saja anak sangat sulit untuk memberi penghormatan kepada orang tuanya sendiri.
B. Tingkah anak yang banyak berbuat salah kepada orang tuanya telah terjadi dari masa ke masa.
C. Ada tingkah laku yang tidak patut dicontoh dari tokoh sang anak dalam cerita Rembulan di Mata Ibu.
D. Pada suatu tempat di suatu masa sebuah keluarga hanya terdiri dari seorang anak dan ibunya.
E. Dalam cerita Rembulan di Mata Ibu ini kesadaran telah datang pada sang anak karena pengorbanan ibunya.

Penulis : Malin Batuah

Ciri Bahasa Indonesia Baku ,Pemahaman terhadap Lafal, Tekanan, Intonasi, dan Jeda

Ciri Bahasa Indonesia Baku

Ciri Bahasa Indonesia Baku
Bahasa baku adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia
yang berlaku. Pedoman yang digunakan adalah Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Pedoman Pembentukan Istilah,
dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Bahasa yang tidak mengikuti kaidahkaidah
bahasa Indonesia disebut bahasa tidak baku.
Fungsi bahasa baku ialah sebagai pemersatu, pemberi kekhasan,
pembawa kewibawaan, dan kerangka acuan. Ciri-ciri ragam bahasa baku,
yaitu, sebagai berikut.
1. Digunakan dalam situasi formal, wacana teknis, dan forum-forum
resmi seperti seminar atau rapat.
2. Memiliki kemantapan dinamis artinya kaidah dan aturannya tetap dan
tidak dapat berubah.
3. Bersifat kecendekiaan, artinya wujud dalam kalimat, paragraf, dan
satuan bahasa yang lain mengungkapkan penalaran yang teratur.
4. Memiliki keseragaman kaidah, artinya kebakuan bahasa bukan penyamaan
ragam bahasa, melainkan kesamaan kaidah.
5. Dari segi pelafalan, tidak memperlihatkan unsur kedaerahan atau
asing.

Sumber : Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Semenjana Kelas X Mokhamad Irman dkk.


Pemahaman terhadap Lafal, Tekanan, Intonasi, dan Jeda

Pemahaman terhadap Lafal, Tekanan, Intonasi, dan Jeda
Unsur bahasa yang terkecil berupa lambang bunyi ujaran disebut
fonem. Ilmu yang mempelajari fonem disebut fonologi atau fonemik. Fonem
dihasilkan oleh alat ucap manusia yang dikenal dengan artikulasi. Dalam
bentuk tertulisnya disebut huruf. Lambang-lambang ujaran ini di dalam
bahasa Indonesia terbagi dua, yaitu vokal dan konsonan. Cara mengucapkan
lambang-lambang bunyi ini disebut dengan lafal. Jadi lafal adalah cara
seseorang atau sekelompok penutur bahasa dalam mengucapkan lambanglambang
bunyi yang dihasilkan oleh alat ucapnya.
Fonem vokal di dalam bahasa Indonesia secara umum dilafalkan
menjadi delapan bunyi ujaran walaupun penulisannya hanya lima ( a, i , u,
e, o ). Misalnya,
fonem / a / dilafalkan [ a ]
fonem / i / dilafalkan [ i ]
fonem / u / dilafalkan [u ]
fonem / e / dilafalkan tiga bunyi yaitu: [ e ] , [ ə ] atau e lemah, dan [ε]
atau e lebar.
Contoh pemakaian katanya;
lafal [ e ] pada kata < sate >
lafal [ə ] pada kata < pəsan >
lafal [ε ] pada kata < n ε n ε k >
fonem / o / terdiri atas lafal [ o ] biasa dan lafal [ ] atau o bundar.
Contoh pemakaian katanya:
lafal [ o ] pada kata [ orang ]
lafal [ ] pada kata [ p h n ], saat mengucapkannya bibir lebih maju
dan bundar.
Variasi lafal fonerm / e / dan / o / ini memang tak begitu dirasakan,
cenderung tersamar karena pengucapannya tidak mengubah arti kecuali
pada kata-kata tertentu yang termasuk jenis homonim.
Tidak ada pedoman khusus yang mengatur ucapan atau lafal ini seperti
bagaimana diaturnya sistem tata tulis atau ejaan dalam Pedoman Ejaan Yang
Disempurnakan (EYD) yang harus dipatuhi setiap pemakai bahasa tulis
bahasa Indonesia sebagai ukuran bakunya. Lafal sering dipengaruhi oleh
bahasa daerah mengingat pemakai bahasa Indonesia terdiri atas berbagai
suku bangsa yang memiliki bahasa daerahnya masing-masing. Bahasa
daerah ini merupakan bahasa Ibu yang sulit untuk dihilangkan sehingga
saat menggunakan bahasa Indonesia sering dalam pengucapan diwarnai
oleh unsur bahasa daerahnya. Contoh: kata <apa> diucapkan oleh orang
Betawi menjadi <ape>, <p h n> diucapkan <pu’un>. Pada bahasa Tapanuli
(Batak), pengucapan e umumnya menjadi ε, seperti kata <benar> menjadi
<bεnar>, atau pada bahasa daerah Bali dan Aceh pengucapan huruf t dan d
terasa kental sekali, misalnya ucapan kata teman seperti terdengar deman,
di Jawa khusunya daerah Jawa Tengah pengucapan huruf b sering diiringi
dengan bunyi /m / misalnya, <Bali> menjadi [mBali], <besok> menjadi
{mbesok] dan sebagainya.
Selain itu pelafalan kata juga dipengaruhi oleh bahasa sehari-hari yang
tidak baku. Perhatikan contoh di bawah ini.
telur -------- telor
kursi -------- korsi
lubang -------- lobang
kantung -------- kant ng
senin -------- sənεn
rabu -------- reb
kamis -------- kemis
kerbau -------- kebo, dan lain sebagainya.
Menurut EYD, huruf vokal dan konsonan didaftarkan dalam urutan
abjad, dari a sampai z dengan lafal atau pengucapannya. Secara umum
setiap pelajar dapat melafalkan abjad dengan benar, namun ada pelafalan
beberapa huruf yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena sering
dipengaruhi oleh lafal bahasa asing atau bahasa Inggris.
Contoh:
-- huruf c dilafalkan ce bukan se,
-- huruf g dilafalkan ge bukan ji
-- huruf q dilafalkan ki bukan kyu
-- huruf v dilafalkan fe bukan fi
-- huruf x dilafalkan eks bukan ek
-- huruf y dilafalkan ye bukan ey
Jadi : Pengucapan MTQ adalah [em te ki] bukan [em te kyu]
Pengucapan TV adalah [te fe] bukan [ti fi]
Pengucapan exit adalah [eksit] bukan [ekit]
Dalam bahasa Indonesia ada gabungan vokal yang diikuti oleh bunyi
konsonan w atau y yang disebut dengan diftong.
Contoh:
1. Gabungan vokal /ai/ menimbulkan bunyi konsonan luncuran [ay]
pada kata:
- sungai menjadi sungay
- gulai menjadi gulay
- pantai menjadi pantay
2. Gabungan vokal /au/ menimbulkan bunyi konsonan luncuran
[aw] pada kata:
- harimau menjadi harimaw
- limau menjadi limaw
- kalau menjadi kalaw
3. Gabungan vokal / oi / menimbulkan bunyi konsonan luncuran
[oy] pada kata:
- koboi menjadi koboy
- amboi menjadi amboy
- sepoi menjadi sepoy
Tetapi, ada kata-kata yang menggunakan unsur gabungan tersebut di
atas tetap dibaca sesuai lafal kedua vokalnya.
Contoh: - dinamai tetap dibaca [dinamai]
- bermain tetap dibaca [bermain]
- mau tetap dibaca [mau]
- daun tetap dibaca [daun]
- koin tetap dibaca [koin]
- heroin tetap dibaca [heroin]
Ada juga dalam tata bahasa Indonesia, gabungan konsonan yang
dilafalkan dengan satu bunyi, seperti fonem /kh/, / sy/, ny/, /ng/ dan /nk/.
Meskipun ditulis dengan dua huruf, tetapi dilafalkan satu bunyi, contoh:
khusus , syarat, nyanyi, hangus, bank.
Lafal dan fonem merupakan unsur segmental di dalam bahasa Indonesia.
Selain unsur ini, ada pula unsur lain yang fungsinya berkaitan dengan unsur
suprasegmental, yaitu tekanan, intonasi, dan jeda. Tekanan adalah gejala
yang ditimbulkan akibat adanya pengkhususan dalam pelafalan sebuah
suku kata atau kata. Tekanan adalah bentuk tinggi rendahnya, panjang
pendeknya, atau keras lembutnya suara atau pengucapan. Biasanya kata
yang mengalami tekanan tertentu adalah kata yang dipentingkan.
Tekanan dalam bahasa Indonesia tidak mengubah makna seperti
pada bahasa Batak Toba /bóntar/ artinya putih, dan /bentár/ artinya darah.
Tekanan hanya menunjukkan sesuatu kata atau frasa yang ditonjolkan atau
dipentingkan agar mendapat pemahaman secara khusus bagi pendengar.
Tekanan tertentu pada sebuah kata atau frasa menguatkan maksud
pembicara. Biasanya tekanan didukung oleh ekspresi atau mimik wajah
sebagai bagian dari ciri bahasa lisan.
Contoh penggunaan pola tekanan:
1. Adi membeli novel di toko buku.
(yang membeli novel Adi, bukan orang lain)
2. Adi membeli novel di toko buku.
(Adi membeli novel, bukan membaca)
3. Adi membeli novel di toko buku.
(yang dibeli Adi novel bukan alat tulis)
4. Adi membeli novel di toko buku.
(Adi membeli novel di toko buku bukan di pasar)
Ciri suprasegmental lainnya adalah intonasi. Intonasi ialah tinggi
rendahnya nada dalam pelafalan kalimat. Intonasi lazim dinyatakan dengan
angka (1,2,3,4). Angka 1 melambangkan titinada paling rendah, sedangkan
angka 4 melambangkan titinada paling tinggi. Penggunaan intonasi
menandakan suasana hati penuturnya. Dalam keadaan marah seseorang
sering menyatakan sesuatu dengan intonasi menaik dan meninggi,
sedangkan suasana sedih cenderung berintonasi menurun. Intonasi juga
dapat menandakan ciri-ciri sebuah kalimat. Kalimat yang diucapkan
dengan intonasi akhir menurun biasanya bersifat pernyataan, sedangkan
yang diakhiri dengan intonasi menaik umumnya berupa kalimat tanya.
Contoh:
- Mereka sudah pergi.
- Mereka sudah pergi? Kapan?
Berbicara tentang intonasi berarti berbicara juga tentang jeda. Jeda adalah
penghentian atau kesenyapan. Jeda juga berhubungan dengan intonasi,
penggunaan intonasi yang baik dapat ditentukan pula oleh penjedaan
kalimat yang tepat. Untuk kalimat panjang penempatan jeda dalam
pengucapan menentukan ketersampaian pesan. Dengan jeda yang tepat
pendengar dapat memahami pokok-pokok isi kalimat yang diungkapkan.
Penggunaan jeda yang tidak baik membuat kalimat terasa janggal dan tidak
dapat dipahami. Dalam bahasa lisan, jeda ditandai dengan kesenyapan.
Pada bahasa tulis jeda ditandai dengan spasi atau dilambangkan dengan
garis miring [/], tanda koma [,], tanda titik koma [;], tanda titik dua [:], tanda
hubung [-], atau tanda pisah [--]. Jeda juga dapat memengaruhi pengertian
atau makna kalimat. Perhatikan contoh di bawah ini.
Menurut pemeriksaan dokter Joko Susanto memang sakit
Kalimat ini dapat mengandung pengertian yang berbeda jika jedanya
berubah. Misalnya,
a. Menurut pemeriksaan / dokter Joko Susanto / memang sakit.
(yang sakit dokter Joko Susanto)
b. Menurut pemeriksaan dokter / Joko Susanto / memang sakit.
(yang memeriksa dokter dan yang sakit ialah Joko Susanto)
c. Menurut pemeriksaan dokter Joko/ Susanto/ memang sakit.
(yang memeriksa bernama dokter Joko, yang sakit Susanto)

Ragam Bahasa

Ragam Bahasa

Ragam Bahasa
Dalam bahasa Indonesia terdapat aneka ragam bahasa yang timbul
akibat pengaruh dari berbagai hal yang berhubungan dengan penutur
bahasa dan sarana atau media yang digunakan.

1. Hal yang berhubungan dengan penutur dapat dibedakan seperti berikut.
a. Latar belakang daerah penutur. Ragam bahasa Indonesia yang
dipengaruhi oleh latar belakang daerah penuturnya menimbulkan
ragam daerah atau dialek. Dialek adalah cara berbahasa Indonesia
yang diwarnai oleh karakter bahasa daerah yang masih melekat
pada penuturnya. Contoh: Bahasa Indonesia dengan dialek Betawi
biasanya menggunakan fonem /e/ untuk melafalkan kata yang
berakhir dengan vokal /a/., misalnya apa menjadi ape, di mana
menjadi di mane, dan seterusnya. Begitu pula dengan logat Jawa
untuk menyebutkan kata berawalan konsonan /b/ akan terdengar
bunyi an konsonan /m/, misalnya, Bandung menjadi mBandung,
Bogor menjadi mBogor.

b. Latar belakang pendidikan penutur. Berdasarkan latar belakang
pendidikan penutur, timbul ragam yang berlafal baku dan yang
tidak berlafal baku khususnya dalam pengucapan kosakata yang
berasal dari unsur serapan asing. Kaum berpendidikan umumnya
melafalkan sesuai dengan lafal baku. Namun, untuk yang kurang
atau tidak berpendidikan, pelafalan diucapkan tidak tepat atau
tidak baku. Contoh pengucapan kata film, foto, fokus, fakultas
diucapkan pilm, poto, pokus, pakultas.

c. Situasi pemakaian, sikap, dan hubungan sosial penutur.
Berdasarkan hal ini, timbul ragam formal, semiformal, dan
nonformal. Ragam formal digunakan pada situasi resmi atau
formal, seperti di kantor, dalam rapat, seminar, atau acara-acara
kenegaraan. Ragam formal menggunakan kosakata baku dan
kalimatnya terstruktur lengkap. Ragam formal juga dipakai jika
penutur berbicara pada orang yang disegani atau dihormati,
misalnya pimpinan perusahaan.
Ragam semiformal dan nonformal biasa dipakai pada situasi tidak
resmi seperti di warung, di kantin, di pasar, pada situasi santai, dan
akrab. Ragam semiformal dan formal dibedakan oleh pemilihan
katanya. Ragam formal menggunakan kalimat yang tidak lengkap
gramatikalnya dan kosakata yang dipilih cenderung tidak baku,
sedangkan ragam nonformal relatif sama dengan ragam informal
hanya pilihan katanya lebih luwes atau bebas. Kata-kata daerah
atau gaul dapat digunakan sepanjang masing-masing penuturnya
memahami dan tak terganggu dengan penggunaan kata tersebut.
Contoh:
1. Kalau soal itu, saya nggak tau persis. (informal/semiformal)
2. Emangnya kamu nggak dikasih kupon. (semiformal)
3. Kalau soal itu, ogut nggak tau deh. (nonformal)
4. Emangnya situ nggak ngantor, Mas. (nonformal)

d. Ruang lingkup pemakaian atau pokok persoalan yang dibicarakan
di lingkungan kelompok penutur. Banyak persoalan yang dapat
menjadi topik pembicaraan dalam kehidupan sehari-hari. Saat
membicarakan topik tertentu, seseorang akan menggunakan
kosakata kajian atau khusus yang berhubungan dengan topik
pembicaraan tersebut. Ragam bahasa yang digunakan untuk
membahas suatu bidang akan berbeda dengan bidang lainnya,
misalnya pembicaraan yang berhubungan dengan agama tentu
menggunakan istilah yang berhubungan dengan agama, begitu
pula dengan bidang lainnya, misalnya bidang hukum, kedokteran,
dan ekonomi. Masing-masing memiliki ciri khas kata atau ragam
bahasa yang digunakan. Termasuk penggunaan ungkapan atau
gaya bahasanya. Variasi ini disebut dengan laras bahasa.
Di bawah ini, beberapa contoh ragam yang merupakan laras
bahasa

Wacana tentang teknologi komunikasi:
Banyak situs internet baik di luar maupun di dalam negeri yang
menyediakan fasilitas ruang obrolan (chatting room) ini. Salah satu
yang cukup populer di Indonesia adalah milik detik.com. Agar
percakapan aman dari umum, chatter dapat membuat web pribadi.
Pembuatannya dapat gratis melalui fasilitas NBCi.com.

Wacana yang berhubungan dengan persoalan kesehatan:
Penyakit chikungunya diakibatkan oleh virus yang ditularkan oleh
nyamuk Aedes aegypti. Virus ini membuat penderita mengalami
demam tinggi selama lima hari. Setelah mengalami masa inkubasi
selama tiga hari hingga dua belas hari, penderita akan jatuh sakit.
Selain demam, penderita juga akan mengalami rasa ngilu pada
otot, mual hingga muntah.

Wacana surat kabar:
Lima siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bina Taruna,
Purwakarta, tewas akibat truk yang mereka tumpangi terguling di
kawasan Waduk Cirata, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Rabu
(9/5) sekitar pukul 13.30. Para siswa tersebut menumpang truk usai
berekreasi ke Waduk Cirata setelah merampungkan ujian.

Wacana bergaya sastra:
Grace mengambil payung dari bawah jok tempat duduk dan
beranjak keluar. Dari arah lapangan, murid-murid dengan baju
olahraga enggan berteduh. Pakaian mereka sudah sangat kuyup,
tetapi semangat mereka untuk bermain basket masih menyala
dalam hujan. Beberapa anak yang tidak bermain bersorak–sorai
dan bertepuk tangan sembari menyipratkan air yang berkubang di
tanah dengan kaki mereka.

2. Berdasarkan sarana atau media yang digunakan, ragam bahasa
dibedakan menjadi ragam lisan dan tulisan.
Perbedaan ragam lisan dan tulisan:
Ragam lisan
1. Menghendaki adanya
teman/mitra bicara.
2. Unsur gramatikal seperti
subjek, predikat, objek
tidak tampak. Yang tampak
adalah gerakan, mimik, dan
ekspresi.
3. Terikat oleh situasi, kondisi,
ruang, dan waktu.
4. Makna dipengaruhi oleh
tekanan atau nada suara.

Ragam tulisan
1. Tidak harus ada teman bicara
di hadapan
2. Fungsi gramatikal
dinyatakan secara eksplisit.
3. Tidak terikat situasi, ruang,
dan waktu.
4. Makna ditentukan oleh
pemakaian tanda baca.

Sumber : Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Semenjana Kelas X Mokhamad Irman dkk.