Penulisan Kata Dirgahayu
(Diintisarikan dari buku Santun Bahasa, Anton M. Moeliono)
Pada tanggal 17 Agustus kita banyak menjumpai tulisan:
Dirgahayu RI ke XXX
Dirgahayu HUT RI ke-30
Dirgahayu Kemerdekaan RI ke XXX
Dirgahayu RI HUT ke XXX
Dirghayu RI 30 TH
Arti kata dirgahayu adalah (semoga) panjang umur.
Dirgahayu RI ke XXX artinya semoga panjang umur RI ketiga puluh. RI ketiga puluh berati ada RI satu, RI kedua, dan seterusnya hingga RI ketiga puluh. Jelas ini pernyataan yang salah yang menimbulkan arti yang juga salah. Demikian pula dengan pernyataan-pernyataan berikutnya yang jelas sangat salah dalam artinya .
Kesalahan ini berasal dari tidak tahu akan arti dari kata dirgahayu. Mereka mengasumsikan arti dirgahayu adalah selamat ulang tahun atau selamat.
Penulisan yang benar adalah:
Dirgahayu Republik Indonesia
atau
Selamat Ulang Tahun Ketigapuluh Republik Indonesia
Aturan Penulisan Kata di dan ke
Ada dua cara penulisan kata di dan ke, yaitu:
1. dirangkaikan dengan kata yang mengikutinya
2. dipisahkan dari kata yang mengikutinya
Di ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya apabila kata yang mengikuti kata di tersebut tergolong kata kerja. Dalam istilah tatabahasa dikatakan apabila di tersebut tidak dapat digantikan oleh ke. Jadi, karena dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak ada bentuk keambil kebawa, ketulis, kebaca, dan kebeli, maka jika kata-kata dasar tersebut dihubungkan dengan di harus dituliskan diambil, dibawa, ditulis, dibaca, dibeli.
Contoh lain:
di + pegang = dipegang
di + tembak = ditembak
di + terima = diterima
Sebaliknya jika kedudukan di tersebut bisa digantikan oleh ke maka penulisannya harus dipisahkan.
Menurut istilah tatabahasa, di harus terpisah dengan kata yang mengikutinya jika di berfungsi sebagai kata depan.
Kata di dan ke berfungsi sebagai kata depan jika diikuti oleh :
1. kata benda
contoh:
di rumah - ke rumah
di pasar - ke pasa
di sekolah - ke pasar
di laut - ke laut
2. kata yang menunjukkan arah atau tempat
contoh:
di sana - ke sana
di situ - ke situ
di dalam - ke dalam
di utara - ke utara
Kata ke harus ditulis serangkat dengan kata yang mengikutinya jika ke tersebut;
1. diikuti oleh kata bilangan, baik kata bilangan tentu maupun kata bilangan tak tentu
contoh:
ke + satu = kesatu
ke + sepulau = kesepuluh
ke + sekian = kesekian
2. diikuti oleh kata : kasih, tua, hendak
3. sebagai bagian dari kata yang bersangkutan
contoh:
kemarin, kemudian, kepala, kepada
Perlu diperhatikan penulisan kata di bila diikuti kata samping dan penulisan kata ke bila diikuti kata luar. Masing-masing kata itu mempunyai dua bentuk penulisan, ada yang digabung ada yang dipisah.
Di dan samping ditulis terpisah jika menunjukkan arah atau tempat.
Contoh:
Rumahnya persis berada di samping Masjid Darul Hikmah Desa Aia Janiah Pematang Pudu, Duri.
Di dan samping ditulis serangkai jika kata tersebut mengandung makna keculai atau selain.
Contoh:
Disamping sebagai pegawai negeri, ia juga seorang wiraswastawan.
Perbuatan itu disamping merugikan diri sendiri juga merugikan orang lain.
Kata ke dan luar ditulis terpisah apabila kata tersebut merupakan kebalikan dari kata ke dalam.
Contoh:
Ia sering bertugas ke luar kota.
Yudi sering bepergian ke luar negeri untuk mengajar tentang bahasa Minangkabau.
Ke dan luar ditulis serangkai jika kata tersebut lawan dari kata masuk.
Contoh:
Badu keluar dari perusahaan tempat ia bekerja untuk menjadi pengusaha.
Pramuka SIT Mutiara keluar masuk hutan untuk mendapatkan Penegak Garuda.
Menyetujui, sebuah tindak komunikatif
Menyetujui berarti menyatakan setuju / sepakat dengan; membenarkan; memperkenankan.
Kalau kita ingat-ingat dalam kehidupan sehari-hari maka ternyata ada hal-hal yang dapat kita setujui, artinya yang berkenan di hati kita; di samping itu terdapat pula hal-hal yang tidak berkenan di hati kita, yang tidak kita setujui. Baik yang kita setujui maupun yang tidak kita setujui harus diikuti oleh alasan-alasan yang bisa diterima akal sehat.
Sebagai guru bahasa Indonesia, kita sejak dini berkewajiban menanamkan pengertian-pengertian tersebut kepada anak didik kita, baik secara lisan maupun tulisan dalam kehidupan sehari-hari agar mereka terampil berbicara dan menulis. Untuk maksud itu perlu disusun suatu wacana yang sesuai untuk dilatihkan kepada para siswa. Berikut ini disajikan sebuah contoh wacana yang bermaksud melatih keterampilan siswa mengungkapkan persetujuan terhadap suatu usul ataupun sebaliknya tidak menyetujui usulan tersebut.
Bermain-main
Ali : "Teman-teman, mari kita bermain-main"
Ahmad : "Setuju. ayo kita bermain!'
Ardi : "Tunggu dulu, main apa?"
Ali : "Main panah-panahan."
Ardi : "Ah, saya tidak setuju! Itu berbahaya! Nanti kena mata kita!"
Ahmad : "Memang benar, jangan main panah-panahan. Lebih baik main sepak bola saja."
Ardi dan Ali : "Ya, ya setuju! Mari kita panggil teman-teman lain."
Sumber: PENGAJARAN PRAGMATIK. Henry Guntur Tarigan
Yang berminat kepada buku Pengajaran Pragmatik bisa melayangkan email ke : janphiloskusuma@gmail.com







0 komentar:
Posting Komentar