Laman: blog ini akan bercerita mengenai materi bahasa indonesi karangan cerpen dan puisi moga bisa

Kamis, 11 Oktober 2012

Aturan Penulisan Naskah Drama


Aturan Penulisan Naskah Drama
1. Deskripsi tokoh secara rinci
Pada awal naskah drama harus dijelaskan siapa saja pelaku
naskah tersebut dan pelukisan kondisi tokoh tersebut. Perhatikan
contoh berikut ini!
GERIMIS DI SENJA KALA
Para pelaku
1. Gina : Seorang gadis berumur 25 tahun, parasnya
cantik namun judes, bicaranya ceplas-ceplos.
2. Hastin : Seorang gadis berumur 28 tahun, ia merupakan
teman Gina, perangainya halus, tutur katanya
sopan. Ia terlibat rebutan pacar dengan Gina,
adiknya.

2. Gambaran pentas dengan kelengkapannya
Pada setiap awal adegan harus dilukiskan penggambaran
panggung sebagai latar situasi. Penggambaran panggung ini akan
dijadikan pedoman bagi penata panggung dalam
mempersiapkan peralatan di atas panggung.
Contoh :
Pentas menggambarkan sebuah ruang tamu sederhana,
terdapat satu stel kursi tamu model kuno dan di sudut
ruangan terdapat vas bunga yang sudah usang.

3. Petunjuk ekspresi
Petunjuk ekspresi akan dijadikan pedoman bagi pemeran
dalam mengucapkan vokal, melakukan gerak, dan melakukan
blocking.
Contoh petunjuk ekspresi berikut ini.
Gina : (sambil tersenyum sinis) Hastin, kamu kira aku
menyerah begitu saja, tidak, tidak Hastin, (sambil
membanting dompet ke atas meja) kita taruhan, siapa
yang bakal jadian sama Farhan, aku atau kau!!

Latihan yang Perlu Dilakukan dalam Pementasan Drama
1. Latihan vokal, tekanan, emosi, gestur, dan konsentrasi
a. Drama dimainkan dengan mengandalkan kekuatan
vokal para pemerannya. Oleh karena itu, latihan untuk
menguatkan vokal ini harus ditekuni. Latihan ini bisa
berupa pengucapan vokal a, i, u, o, e. Vokal harus jelas
dan keras karena pentas drama tidak menggunakan
pengeras suara.

b. Latihan tekanan dilakukan dengan mengucapkan
kalimat-kalimat yang mendapatkan tekanan pada katakata
tertentu.
Misalnya : ucapkan kalimat berikut dengan tekanan pada
kata yang digarisbawahi!
Kamu harus memenuhi permintaan itu!
Kamu harus memenuhi permintaan itu!
Kamu harus memenuhi permintaan itu!

c. Latihan emosi dilakukan dengan melatih kepekaan hati
atau perasaan kalian hingga menjadi mudah untuk
diajak berekspresi baik untuk marah, menangis, tertawa,
membentak, dan sebagainya.
Laitihan dapat dilakukan dengan melakukan
perenungan, pejamkan mata pikirkan sesuatu yang
menyedihkan terus lakukan hingga tanpa terasa air mata
kalian meleleh keluar sebagai ekspresi kesedihan. Setelah
beberapa lama kalian bersedih cobalah untuk tiba-tiba
tertawa terbahak-bahak dan seterusnya.

d. Latihan gestur adalah melatih gerak tubuh untuk
mendukung ekspresi dialog, misalnya tangan
menunjuk, mengangkat kedua telapak tangan sebagai
ekspresi kepasrahan, berjalan mondar-mandir sebagai
ekspresi kepanikan dan sebagainya.

e. Latihan konsentrasi dilakukan dengan pemusatan
pikiran untuk menjernihkan pikiran dan perasaan.
Latihan ini biasanya mengawali seluruh latihan dapat
juga mengakhiri seluruh rangkaian latihan.

2. Latihan pembacaan naskah
Setelah semua rangkaian latihan penunjang di atas dilakukan
maka latihan pembacaan naskah dilakukan yang dipimpin oleh
sutradara. Semua pemeran membaca naskah dengan ekspresi
dan sutradara membetulkan pembacaan yang kurang sesuai.

3. Persiapan akhir
Sehari sebelum pentas, dilakukan latihan terakhir yang
merupakan tiruan pentas. Cerita yang dipilih diperankan seperti
tuntutan naskah, seolah-olah pentas sebenarnya, hanya belum
menggunakan kostum dan belum ditonton oleh penonton.

0 komentar:

Posting Komentar