Laman: blog ini akan bercerita mengenai materi bahasa indonesi karangan cerpen dan puisi moga bisa

Kamis, 11 Oktober 2012

Asal Mula Kata Delapan dan Sembilan, Kalimat Majemuk Setara,Kata Keterangan Modalitas (Keterangan Kecaraan)

Asal Mula Kata Delapan dan Sembilan
Kata delapan dan sembilan bukanlah kata bilangan utama asli, tetapi merupakan kata jadian yang kini tidak dirasakan lagi.
Kata-kata tersebut berasal dari:

delapan --> dua alapan
dua alapan artinya dua ambilan, yaitu dua diambil dari sepuluh


sembilan --> sa ambilan
sa ambilan artinya diambil satu dari sepuluh.



Sumber : Gorys Keraf, Tata Bahasa Indonesia


Kalimat Majemuk Setara
Bila hubungan antara kedua pola kalimat itu sederajat maka terdapatlah kalimat majemuk yang setara. Hubungan setara itu dapat diperinci lagi atas:

1. Setara menggabungkan
Penggabungan itu dapat terjadi dengan merangkaikan dua kalimat tunggal dengan diantarai kesenyapan antara atau dirangkaikan dengan kata-kata tugas seperti dan, lagi, sesudah itu, karena itu.
Contoh kalimat:
a. Saya menangkap ayam itu dan ibu memotongnya.
b. Para siswa SMA Mutiara memperkenalkan teknologi terbaru temuan mereka, sesudah itu memberi kesempatan kepada pengunjung pameran untuk mencobanya.

2. Setara mempertentangkan
Kata-kata tugas yang dipakai dalam hubungan ini adalah tetapi, melainkan, hanya.
Contoh kalimat:
a. Semua usaha telah ia lakukan, tetapi keberhasilan belum hendak menyapanya.
b. Keberhasilan hidup seseorang bukan bersumber dari banyaknya harta, melainkan dari akhlak dan amal salehnya.

3. Setara memilih
Kata tugas yang dipakai untuk hubungan ini adalah atau.
Contoh :
Dodi harus berani mengambil risiko paling besar atau ia tak akan pernah punya kesempatan lagi.

Sumber : Tata Bahasa Indonesia, Gorys Keraf




Kata Keterangan Modalitas (Keterangan Kecaraan)


Pengertian
Kata keterangan modalitas yaitu kata-kata yang menjelaskan suatu peristiwa karena tanggapan si pembicara atas berlangsungnya peristiwa tersebut. Dalam hal ini subjektivitas lebih ditonjolkan. Keterangan ini menunjukkan sikap pembicara bagaimana ia melihat persoalan tersebut.

Bentuk-bentuk keterangan modalitas
1. Untuk menyatakan kepastian : memang, niscaya, pasti, sungguh, tentu, tidak, bukannya, bukan.
2. Untuk menyatakan pengakuan : ya, benar, betul, sebenarnya, malahan.
3. Untuk menyatakan kesangsian : agaknya, barangkali, entah, mungkin, rasanya, rupanya.
4. Untuk menyatakan keinginan : moga-moga, mudah-mudahan.
5. Untuk menyatakan ajakan : baik, mari, hendaknya, kiranya.
6. Untuk menyatakan larangan : jangan
7. Untuk menyatakan keheranan : masakan, mustahil, mana boleh.

0 komentar:

Posting Komentar