BANGUNKAN KAMI
Semua keindah berpangkal dari keyakinan, mimpi yang hayal akan jadi kenyataan bila kita berjuang patang menyerah untuk menggapainya.Karir yang begitu gemerlap seakan menanti terpampang didepan mata menarik bak magnet yang kut untuk berprestasi.adang gemerlapnya duniawi jabatan membuat rang lupa akan apa yang di gariskan, ingin jadi dan ingin seperti apa. Rindu salah satu siswa SD yang merindukan harapan yang begitu besar dia bergantung pada pendidikan yang dihadapi dan bertolak dari ketidak ketiadaan keluarganya. Rindu duduk dibangku sekolah dasar kelas 6, beseta 4 temanya yang sedesa Rita,Mita.Ulfa dan Mia.Mereka pertaruhkan harapan mereka pada masa depan yang menjulang yang mengiur setiap insan. Rindu anak gadis desa yang cukup pintar dikelasnya terbukti dia mendapat uara 1 dikelasnya mengalahkan rekan rekanya yang berkehidupan lebih makanan enak minum susu, maklum temenya orang koata.
Rindu bertempat tingal di puncank desa nan jauh dari peradaban kota, alat transportasi saja masih tradisional maklum pake kecepatan kaki mereka melangkah. Jurang nan terjal mereka hadapi berlari pegang obor penerang alan yang alami.Setiap hari mereka menggayuh kaki tuk raih ilmu tuk masa depan, menggapi ilmu membuktikan mimpi.Keringat yang bercucur yang menggantikan farfum tak membuat mereka hilang semangat karena mereka punya tujuan besar dan mulia. Kadang keempat bocah mungil itu sambil berjalan berbincang mengeluhkan nasib mereka,"apakah bisa terwujud apa yang kita cita-citakan" pakguru dan buguru kan bilang jangan berharap hal yang berlebihan,itu bak punguk merindukan bulan,apa mereka tidak sedang menyindir kita unkap keempat bocah tadi. Rindu dan kawan- kawan semangatnya perlu ditiru, ketika ayam berkokok mereka sudah siap bertempur turu dari bukit menggayuh kaki bertempur dengan maut tuk mencari setetes landasan ilmu untuk masa depan yang mereka andalakan.Beda halnya dgan orang kota yang dekat dengan sekolah tersebut, ketika Rindu semangat berangkat mereka yang hidup dikota masih terpejam bersiul merdu bak kerbau yang kekenyangan,seolah tak memikirkan beban berat yang dihadapi rindu dan kawan-kawan.
Bagi bocah seumuran Rindu tak layak mendapatlkan kenyataan yang begitu berat, Orangtuapun kayanya tak kuat menghaddapi beban itu, tapi mereka berprinsip rezeki yang diberikan hari ini jangan di dahului oleh ayam, itu yang tengiang dibenak mereka saat di berikan arahan oleh orang tunya jadi mereka selalu berangkat pagi eh maaf masih gelap.Suatu saat Rindu merasakan lelah yang luar bisa setelah menimba ilmu dari sekolahan dia tidur pulas sekali sampai- sapai dia lupa besok harus bertempur lagi. Malam itu semua merasakan keindahan yang luar bisa mereka bermimpi tentang masa depan. Ridu bermimpi menjadi pejaban yang disegani, dengan gajih yang sangat besar di bisa membeli apasjaja yang dia inginkan, mobil,rumah, bahkan jabatan yang lebih tinggipun dia bis beli,maklum jaman sekarang serba beli.Pagi yang cerah menyambut dengan gebira sinar matahari diding dabag yang terbuat dari bambu memancar kemuka Rindu seolah membangunkan dia untuk beraktifitas. Rindu tersenyak bangun dri mimpi indahnya dan bergegas menuu pancuran tempat dia mandi setaphari.Dia merasa kebingungan yang luar biasa, hari itu dia harus sekolah menimba ilmu untuk masa depan malah dia baru bangun dari keindahan mimpinya. Biasanya dia sudah berjalan setengah perjalanan kini dia baru persiapan untuk berangkat. Bergegas diapun lari meluncur dengan ski kakinya menuju kesekolah, dengan rasa semangat diapun nyapai pada tujuan yaitu sekolah.Tapi memang nasib orang bukit sekoah berangkat siang ya...akhirnya terlambat juga.Dengan rasa takut yang luar biasa diapu perlahan masuk rung pembelajaran, sesekali sambil mengaduh Rindu melangkahkan kakinya mendekati buguru yang sedang mengajar, dan menuturkan uraian kata "maaf bu rindu terlambat" buguru itupun hanya tersenyum melihat rindu yang ketakutan dan sesekali tersenyum melihat sabun yang masih menempel dimukanya dan bertutur"ya sudah sekarang kamu basuh mukamu dulu dengan air biar sabunya hilang,dan tunggu sampai am pembelajaran ini selesai" rindupun menyadari dia kelur perlahan menuu kamar mandi yang berada di sebelah kantor"memnag nasib jadi orang bukit berangkat sing mesti saja terlambat,coba kalau saya jadi orang kota mungkin nasib saya tidak seperti ini" di ungkapkan Rindu sambil membasuh mukanya.
Ada pepatah mengatakan nasib orang siapa tau, memnag betul kata-kata itu, oarang yang mau bekerja keras memng akan memberoleh hasil yang maksimal,itu juga yang dialami rindu dengan semangatnya dia memperoleh juara pertama se nasional ketika lulusan kelas enam.Rindu mendapat beasiwa untuk melanjutka ketingat jeneng yang lebih tinggi dikota, itupun tak disia-siakan Rindu dia ambil beasiswa itu dan melanjutka sekolahnya ke jenang yang lebih tinggi agar bisa mencapai mimpi yang selama ini di idamkanya.
karya: Risdiyanto
baca cerpen ini maaf kalau ada kemiripan nama,prilau dan kejadian yang sama ini hanya karangan fiktif belaka mudah- mudahan ada manfatnya amin.








0 komentar:
Posting Komentar